Bupati Banyuasin Ditahan KPK di Lokasi Terpisah Dengan 5 Tersangka Lainnya – BeritaPrima.com

Bupati Banyuasin Ditahan KPK di Lokasi Terpisah Dengan 5 Tersangka Lainnya

BeritaPrima.com, Jakarta – KPK resmi melakukan upaya penahanan pada Bupati Banyuasin Yan Anton Ferdian di rumah tahanan (Rutan) Klas I cabang KPK di Pomdam Jaya Guntur. Sedang, 5 tersangka lainnya juga turut ditahan masing-masing di lokasi berbeda.

“Keenam tersangka ditahan untuk 20 hari ke depan terhitung mulai hari ini,” kata Kabag Pemberitaan dan Publikasi KPK Priharsa Nugraha, Senin (5/9/2016).

Zulfikar dan Kirman ditahan lebih dulu sekitar pukul 21.22 WIB. Keduanya ditahan di Rutan Klas I Salemba, Jakarta Pusat.

Kemudian giliran Yan yang mengenakan rompi tahanan warna oranye. Dia ditahan di Rutan Klas I cabang KPK di Pomdam Jaya Guntur.

Yang terakhir lalu Rustami, Sutaryo, dan Umar. Untuk Rustami dibawa ke Rutan Polres Jakarta Timur, Sutaryo dibawa ke Rutan Klas I Cipinang, Jakarta Timur, dan Umar ditahan di Rutan Polres Jakarta Pusat.

Yan ditangkap KPK pada Minggu kemarin sesaat setelah mengadakan kegiatan pengajian dalam rangka dirinya dan istrinya untuk berangkat haji. Selain itu, KPK juga menangkap Rustami selaku Kasubag Rumah Tangga Bagian Umum Sekretariat Daerah Kabupaten Banyuasin dan Umar Usman selaku Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Banyuasin di rumah dinas Bupati Banyuasin.

Kemudian KPK juga menangkap Sutaryo selaku Kasi Pembangunan Peningkatan Mutu Pendidikan dan Tenaga Kependidikan Bidang Program dan Pembangunan Dinas Pendidikan Kabupaten Banyuasin dan Kirman selaku swasta yang bertugas sebagai pengepul dana. Lalu seorang pengusaha bernama Zulfikar Muharrami juga ditangkap.

Dari tangan Yan, KPK menyita uang Rp 299.800.000 dan USD 11.200. Kemudian dari tangan Sutaryo, KPK menyita Rp 50 juta. Lalu dari tangan Kirman, KPK menyita bukti setoran biaya haji ke sebuah biro perjalanan haji sebesar Rp 531.600.000.

“Uang Rp 531.600.000 untuk berdua, suami-istri. Uang itu diduga pemberian dan fasilitas biaya haji itu dari ZM (Zulfikar Muharrami) tadi itu (untuk Yan dan istrinya,” kata Wakil Ketua KPK Basaria Panjaitan sebelumnya.

Pemberian itu dilakukan Zulfikar atas permintaan Yan yang memanfaatkan sejumlah proyek di wilayahnya. Yan melihat adanya kesempatan untuk meminta uang kepada para pengusaha yang ingin mendapatkan proyek di wilayahnya.

Atas perbuatannya, KPK menetapkan Yan, Rustami, Umar, Kirman, dan Sutaryo sebagai penerima suap dengan sangkaan melanggar Pasal 12 huruf a atau Pasal 12 huruf b atau Pasal 11 Undang-undang nomor 31 tahun 1999 sebagaimana diubah dengan Undang-undang nomor 20 tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, juncto Pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHP.

Kemudian KPK juga menjerat Zulfikar sebagai tersangka pemberi suap dan disangka melanggar Pasal 5 ayat 1 huruf a atau Pasal 5 ayat 1 huruf b atau Pasal 13 Undang-undang nomor 31 tahun 1999 sebagaimana diubah dengan Undang-undang nomor 20 tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. (dik)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *