Ironis! Kasus Kekerasan Pada Anak Di Blitar Meningkat – BeritaPrima.com

Ironis! Kasus Kekerasan Pada Anak Di Blitar Meningkat

BeritaPrima.com, Blitar – Kasus kekerasan pada anak di bawah umur marak terjadi di wilayah Kabupaten Blitar, Jawa Timur. Dari 59 kasus per Januari-Agustus 2016, pidana yang ditangani kepolisian, 42 di antaranya adalah kasus kekerasan anak. Bahkan dalam sebulan terakhir yakni pada Juli-Agustus, empat bocah telah menjadi korban. Menurut Kapolres Kota Blitar AKBP Yossy Runtukahu pihaknya telah meringkus para pelaku.

“Dan semuanya telah kita amankan. Pada bulan terakhir ada enam pelaku,“ ujarnya kepada wartawan, Rabu kemarin.

Dari penyelidikan, polisi melihat beragam motif kejahatan seksual. Seperti yang menimpa bocah perempuan usia 13 tahun asal Desa Kunir, Kecamatan Wonodadi. Tiga lelaki dewasa, yakni CA (29), S (27) dan MM (26) melakukan pemerkosaan secara bergilir.

Ketiga pelaku adalah warga Kecamatan Wonodadi yang merupakan tetangga desa korban. Informasi yang dihimpun, para pelaku beraksi setelah lebih dulu menenggak minuman keras dan dilakukan di gubuk area persawahan. “Pihak keluarga tidak terima dan melaporkan peristiwa ini ke kepolisian, “terang Yossy.

Kemudian kejahatan seksual yang dialami SU (15) warga Desa Penataran, Kecamatan Nglegok yang berawal dari ponsel.

Pelaku yakni M (54) warga Kecamatan Taman, Kabupaten Sidoarjo mengiming-imingi sanggup memperbaiki ponsel korban yang rusak. Dia juga berjani menambah uang Rp50 ribu sebelum meniduri korban.

Berbeda lagi di wilayah Kecamatan Wonodadi. Pelaku yang berinsial I warga Kecamatan Wonodadi itu ditangkap setelah terbukti membawa kabur sekaligus memerkosa RND (14) tetangganya sendiri.

Petugas juga menangkap MMN (23) warga Kecamatan Ringinrejo, Kabupaten Kediri yang telah melakukan pemerkosaan terhadap SA (14) warga Kecamatan Wonodadi.

Menurut Yossy, dari kasus yang ada beberapa di antaranya berlatar belakang suka sama suka.

“Bahkan presentase latar belakang suka sama suka mencapai 90 persen. Sisanya adalah pemaksaan. Tentunya ini miris sekaligus memperihatinkan,“ paparnya.

Dalam kasus ini, petugas menyita sejumlah barang bukti, termasuk botol miras dan beberpa potong pakaian pelaku dan korban. Dan akan menjerat para pelaku dengan Undang-Undang Perlindungan Anak dengan hukuman maksimal 15 tahun penjara.

Salah seorang aktivis sosial Kabupaten Blitar Zaenal Arifin mengatakan bahwa maraknya kasus kekerasan seksual terhadap anak menunjukkan lembaga sosial dan keagamaan perlu meningkatkan perannya.

Kemudian pendidikan di lingkungan terdekat, yakni keluarga juga perlu ditingkatkan. “Sebab kasus yang terjadi menunjukkan degradasinya moral generasi muda. Karenanya peran lembaga-lembaga sosial dan keagamaan perlu ditingkatkan lagi,“ ujarnya. (bar)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *