Ketika Sang ‘Penjaga Perdamaian’ Justru Merampas Kemerdekaan Palestina – BeritaPrima.com

Ketika Sang ‘Penjaga Perdamaian’ Justru Merampas Kemerdekaan Palestina

BeritaPrima.com – “Hari ini, akhirnya kami menyadari hal yang nyata, bahwa Yerusalem adalah ibu kota Israel, ini tidak lebih dari sekedar pengakuan akan kenyataan, ini juga hal yang tepat untuk dilakukan,” kata Presiden Amerika Serikat Donald Trump dari Ruang Penerimaan Diplomatik Gedung Putih, Rabu 6 Desember waktu AS atau Kamis pagi WIB.

“Setelah lebih dari dua dekade keringanan, kita tidak lagi mendekati kesepakatan damai antara Israel dan Palestina. Akan menjadi kebodohan untuk mengasumsikan bahwa mengulangi formula yang sama persis sekarang akan menghasilkan hasil yang berbeda atau lebih baik,” ujarnya menambahkan.

Kalimat deklarasi dan pengakuan atas Yerusalem sebagai ibu kota Israel itu akhirnya resmi disampaikan Presiden AS. Dunia langsung bereaksi keras. Ratusan ribu warga Jalur Gaza turun ke jalan. Mereka menentang keputusan Trump. Sejumlah pemimpin Eropa juga mengecam keputusan Trump. Pengakuan sepihak AS atas Yerusalem berpotensi menggagalkan seluruh upaya menghentikan bara api yang masih membara di tempat kelahiran para nabi tersebut.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri China Geng Shuang mengatakan keputusan AS itu berpotensi memperuncing konflik regional di Timur Tengah. China sudah lama meyakini, Palestina harus menjadi negara merdeka. Pemimpin spiritual Iran Ayatollah Ali Khamanei dengan tegas mengatakan keputusan AS adalah bukti kegagalan dan ketidakmampuan politik luar negeri negara tersebut.

Di Indonesia, Presiden RI Joko Widodo menggelar konferensi pers dan menyampaikan kecamannya. Jokowi juga meminta agar negara yang tergabung dalam Organisasi Konferensi Islam (OKI) segera melakukan sidang darurat khusus membahas keputusan Trump. Jokowi juga meminta Menlu Retno Marsudi memanggil Dubes AS untuk menyampaikan langsung sikap Indonesia.

Padahal dua hari yang lalu, Menlu juga telah memanggil Dubes AS untuk memastikan apakah Trump akan mengumumkan pengakuan tersebut. Saat itu Dubes AS mengatakan, rencana itu hanya wacana. Meski ternyata Trump tak sedang bercanda.

Keputusan Trump memang kontroversial. Jerusalem adalah wilayah yang menjadi sumber konflik abadi Palestina dan Israel. Keduanya merasa paling berhak atas ‘tanah suci’ tersebut. Yerusalem adalah kota di mana Yahudi, Muslim dan Nasrani sama-sama mengklaim sebagai sebuah tempat spiritual bagi keyakinan mereka. Di Yerusalem ketiga agama ini memiliki tempat ziarah penting. Masjid Al Aqsa bagi Muslim, Dinding Ratapan bagi Yahudi, dan Gereja Makam Kudus bagi Nasrani.

Sejak 69 tahun lalu, ketika negara Israel didirikan, Yerusalem terbagi dua. Kawasan baratnya dikuasai Israel, dan bagian Timurnya di bawah pengawasan aliansi Yordania-Arab.

Lalu pada tahun 1967, atau 19 tahun usai berdirinya Israel berhasil mencaplok kawasan Timur Yerusalem. Merasa sudah menguasai seluruh wilayah tersebut, Israel lalu mendeklarasakin Yerusalem sebagai ibu kotanya.

Namun demikian, klaim itu tak mendapat respons masyarakat internasional. Yerusalem, kota dengan simbol penting bagi umat Yahudi, Kristen dan Islam itu tetap dalam status quo, dan terbuka bagi siapa pun. Jalur perdamaian menjadi satu-satunya harapan, agar kota yang telah diperebutkan berabad-abad itu tetap ada dan tak diklaim siapa pun.

Solusi dua negara menjadi tawaran yang selalu disampaikan setiap kali terjadi pembicaraan damai. Indonesia juga kerap mengajukan “solusi dua negara.” Di mana Palestina dan Israel sama-sama menjadi negara merdeka. Sebagai sahabat dekat AS, Israel kerap melobi negara adikuasa itu untuk meloloskan mimpi mereka. Namun harapan tinggal harapan.

Presiden AS sebelumnya memilih berhati-hati untuk segera mewujudkan keinginan Israel. Tapi Donald Trump berbeda. “Jika presiden sebelumnya hanya membuat janji besar kampanye dan gagal menepati, hari ini saya menepatinya,” kata Trump.

Sementara Palestina sudah lama mengincar wilayah Yerusalem Timur untuk menjadi ibu kota mereka di masa depan dan merawat mimpi itu melalui lobi dan konsistensi menjaga kesepakatan-kesepakatan damai.

Janji Kampanye

Sebenarnya keberpihakan Trump pada Israel sudah diisyaratkan sejak masa kampanye pemilihan presiden. Di masa kampanye, Trump menjanjikan akan menjadikan Yerusalem sebagai ibu kota Israel, dan ia membuktikan janji itu.

Awal Februari 2017, dikutip dari BBC, dalam jumpa pers bersama Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, Trump mengisyaratkan tak terikat lagi dengan kebijakan AS selama puluhan tahun untuk mendorong terbentuknya negara Palestina merdeka. Menurutnya, solusi konflik Palestina-Israel tidak mesti berwujud dengan dua negara. Saat itu Trump berjanji akan memberikan kesepakatan damai yang “hebat.”

“Saya terus mengkaji solusi dua negara dan solusi satu negara. Dan saya suka pada solusi yang kedua belah pihak suka,” ujarnya saat itu dengan diplomatis. Sementara PM Netanyahu mengatakan, ada dua prasyarat bagi perdamaian dengan Palestina.

“Pertama, Palestina harus mengakui Israel sebagai negara Yahudi, dan kedua dalam setiap perjanjian damai, Israel harus tetap menangani keamanan di seluruh barat sungai Yordan,” ujarnya. Syarat yang tak pernah ingin dipenuhi oleh Palestina.

Serangkaian kesepakatan dan nokta perdamaian terus disampaikan oleh keduanya selama berpuluh tahun. Namun semua hanya berakhir di meja perundingan. Beberapa kali terjadi perang besar antara Israel dan Palestina dengan korban jiwa yang tak sedikit, lalu berakhir dengan kesepakatan gencatan senjata. Lalu setelah tahun 2014, tak ada lagi pembicaraan damai yang intensif dan substansif antara Palestina dan Israel.

Pada 29 November 2012, mimpi Palestina sempat berpendar. Hari itu, Sidang Umum PBB menaikkan status Palestina menjadi negara pengamat non-anggota. Artinya, PBB memberi sinyal Palestina bisa segera meningkatkan statusnya sebagai negara berdaulat. Mimpi mendirikan negara Palestina yang meliputi Tepi Barat, Jalur Gaza, dan Yerusalem Timur mulai menjadi nyata.

Sayangnya, meski negara-negara yang tergabung dalam Organisasi Konferensi Islam (OKI) sempat menggelar Sidang Luar Biasa pada 2015 untuk membahas dan mendorong Palestina menjadi negara merdeka, namun langkah itu seperti jejak pasir yang tersapu air.

Dan hari ini, Presiden AS Donald Trump menghempaskan mimpi Palestina. Pengakuan AS atas Yerusalem sebagai ibu kota Israel bisa memupus harapan Palestina. Selama puluhan tahun negara ini berjuang untuk melepas cengkeraman Israel dan bermimpi menjadikan Yerusalem Timur sebagai ibu kotanya. Lalu Amerika dengan keangkuhannya merampas mimpi itu. (aud)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *