Kisah Kehidupan Dimas Kanjeng Di Mata Adik Kandungnya – BeritaPrima.com

Kisah Kehidupan Dimas Kanjeng Di Mata Adik Kandungnya

BeritaPrima.com, Probolinggo – Terlahir dengan nama Taat Pribadi, Dimas Kanjeng dikenal suka berburu ilmu di saat muda. Ilmu itulah yang salah satunya digunakannya untuk mendirikan Padepokan.

Dimas Kanjeng lahir 4 April 1970 di Probolinggo dari pasangan Mustain dan Angatri. Ia merupakan anak ke-5 dari 6 bersaudara. Dimas Kanjeng menghabiskan masa kecilnya di rumahnya di Jalan Mayjen Widodo, Desa Wangkal, Kecamatan Gading atau di sebelah timur Pasar Wangkal.

Ayah Dimas Kanjeng, Mustain, adalah seorang polisi dan pernah menjabat sebagai Kapolsek Gading. Kedua orangtua Dimas Kanjeng sudah almarhum. Mustain meninggal pada 1992, sementara Angatri pada 2002. Rumah masa kecil Dimas sekarang ditempati oleh adiknya, Diah bersama sang suami, Dayat.

“Iya benar ini rumah ayahnya (Dimas Kanjeng), sekarang ditempati adiknya,” ujar Dayat, Jumat (30/9/2016).

Sayangnya Dayat enggan berbicara lebih banyak lagi. Dayat hanya mengatakan bahwa Dimas Kanjeng jarang ke rumah orang tuanya. Hanya setahun sekali Dimas Kanjeng ke rumah tersebut, yakni saat lebaran.

Rumah masa kecil Dimas KanjengRumah masa kecil Dimas Kanjeng

“Biasanya setelah dari makam (orang tua) terus ke sini sebentar,” sebut Dayat.

Empat saudara Dimas Kanjeng yang lain tinggal di Jember. Sisanya di Probolinggo.

Saudara Dimas yang tinggal di Desa Wangkal adalah Taufik Hakiki yang biasa disapa Totok. Totok adalah anak nomor dua dan berprofesi sebagai guru. Sayangnya Totok tak ada saat detikcom menyambangi rumahnya.

“Pak Totok sedang pergi ke Jember,” ujar Tuti, istri Totok.

Di ruang tamu rumah Totok terpajang sebuah foto antara Totok dan Dimas Kanjeng. Foto itu dijepret tahun 2011. Tutik sendiri mengaku tidak terlalu banyak mengerti mengenai Dimas Kanjeng. Sama seperti Dayat, Tutik juga mengatakan bahwa Dimas Kanjeng hanya datang sekali setahun yakni di saat lebaran.

“Kami juga jarang ke sana (padepokan). Kami ke sana kalau diundang saja, misalnya saat perayaan ulang tahun anaknya” ujar Tuti.

Foto Dimas Kanjeng dan keluarga saat merayakan Ultah anak KembarnyaFoto Dimas Kanjeng dan keluarga saat merayakan Ultah anak Kembarnya.

Namun keluarga Totok, kata Tuti, diundang saat perayaan sudah selesai. Hal itu untuk menghindari perayaan yang bercampur dengan pengikut.

“Itu sudah biasa. Kami menyadari kalau adik (Dimas Kanjeng) banyak pengikut,” kata Tuti.

Dari informasi yang dihimpun, Dimas Kanjeng sudah gemar berburu ilmu sejak SMP. Kenakalannya adalah uang SPP yang seharusnya dibayarkan ke sekolah, ia gunakan untuk datang ke orang-orang berilmu. Selepas SMA ia makin gemar berburu ilmu ke tempat yang jauh.

“Salah satu gurunya adalah Kiai Gung Selamet di Sumenep. Gung Selamet adalah cicit dari raja Sumenep Bindoro Saod yang masih keturunan orang pintar dari Batu Ampar, Pamekasan,” ujar Hermanto, tim program Yayasan Padepokan Dimas Kanjeng.

Dari Gung Selamet lah Dimas Kanjeng kemudian mendapat perintah untuk berguru ke Abah Ilyas di Mojokerto. Dimas Kanjeng bukan yang terpandai saat berguru ke Abah Ilyas. Tapi Dimas Kanjeng adalah yang penurut.

Pada 1994, Dimas Kanjeng menikahi Rahma Hidayati yang usianya 7 tahun lebih muda. Dari hasil perkawinannya dengan Rahma, Dimas Kanjeng memiliki tiga anak yakni Syarifatul Wahidah yang lahir pada 1995 dan si kembar Radeni dan Raderi yang lahir pada 2001.

Dimas Kanjeng diketahui mempunyai tiga istri lain. Namun tiga istri tersebut dinikahi secara siri. “Dia (Dimas Kanjeng) ingin istrinya yang lain dibuatkan dan dimasukkan Kartu Keluarga. Tetapi tak bisa karena tak ada surat nikah,” kata Camat Gading Slamet Hariyanto. (feb)

(Visited 204 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *