‘Toron’, Tradisi Mudik Idul Adha Ala Masyarakat Madura – BeritaPrima.com

‘Toron’, Tradisi Mudik Idul Adha Ala Masyarakat Madura

BeritaPrima.com, Surabaya – Masyarakat Madura mudik ke kampung halaman dari perantauan tidak hanya saat hari raya Idul Fitri. Mereka juga pulang kampung pada hari raya Idul Adha dan Maulid Nabi Muhammad SAW.

Sudah menjadi tradisi masyarakat Madura toron (mudik) pada tiga momen besar tersebut. Bahasa toron sendiri merupakan istilah lokal untuk menyebut kepulangan orang Madura dari tanah rantau ke kampung halaman.

Toron pada hari raya Idul Adha tidak kalah semarak dengan Idul Fitri. Sebab, banyak masyarakat Madura yang merantau ke Jakarta, Kalimantan, dan Papua toron pada momen Hari Raya Kurban ini.

Begitu juga dengan para tenaga kerja Indonesia (TKI) asal Madura yang juga ikut toron merayakan Lebaran bersama keluarga di kampung. Sebagian masyarakat lebih memilih toron pada hari raya Idul Adha, dibandingkan Idul Fitri.

Mereka beralasan, karena ada sanak keluarganya yang pergi berhaji, sehingga ketika datang dari Tanah Suci Makkah bisa berkumpul. Sehingga, akan menambah keakraban dan mempererat tali silaturrahmi baik dengan keluarga maupun para tetangga.

Di samping bersilaturahmi, biasanya masyarakat yang mampu menyembelih hewan kurban. Kemudian dagingnya dibagikan kepada para tetangga yang kurang mampu. Selain itu, saat Lebaran berlangsung pada pagi harinya (usai Salat Id) ada tradisi yang namanya Ter Ater.

Tradisi tersebut yakni mengantarkan masakan khas Madura plus kue ke para tetangga. Biasanya yang mengantarkan makanan adalah anak-anak. Kondisi ini membuat perayaan Lebaran semakin meriah dan bermakna.

“Jika tidak pulang pada Lebaran Idul Adha seperti ada yang kurang dalam hidup ini. Karena tidak bisa berkumpul dengan keluarga dan para tetangga di kampung halaman,” ujar salah seorang warga asal Madura yang bekerja di Surabaya, Mohammad Ridwan, Jumat (9/9/2016).

Ia bersama keluarga akan toron ke kampung halaman pada H-2 Lebaran, tepatnya Sabtu 10 September 2016.

“Masak Lebaran setahun sekali tidak pulang, ya pasti pulang. Kalau tidak pulang, sama keluarga yang di Madura ditelefon terus disuruh pulang. Uang bisa dicari lain waktu, tapi keakraban berkumpul dengan keluarga dan tetangga tidak bisa ditemukan, kecuali saat momen Lebaran,” ungkap pria asal Desa Tenggun, Kecamatan Klampis, Kabupaten Bangkalan, ini.

Sementara salah satu tokoh masyarakat Bangkalan, H Zakaria, mengatakan bahwa sudah menjadi tradisi masyrakat Madura untuk toron menjelang hari raya Idul Adha. Warga Madura yang berada di perantauan rela toron karena ingin merayakan Lebaran bersama keluarga di kampung halaman.

“Bagi kami jika Lebaran tidak toron ke kampung merasa sangat sedih. Karena pada momen itulah kita bisa berkumpul dengan keluarga besar. Sebab jika bukan Lebaran, sulit berkumpul karena kesibukan masing-masing,” ungkap Zakaria.

“Kita ingin tetap menjaga tradisi ini. Karena toron saat Lebaran akan mempererat tali silaturrahmi dengan keluarga dan juga para tetangga,” pungkas H Zakaria. (bar)

(Visited 332 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *