Yusril Sebut Penanaman Cabai Berbakteri Asal Cina Subversif! – BeritaPrima.com

Yusril Sebut Penanaman Cabai Berbakteri Asal Cina Subversif!

BeritaPrima.com, Jakarta – Di Bogor, empat warga Negeri Tirai Bambu itu ditangkap karena menjadi petani cabe secara ilegal. Kok bisa ya, dan parahnya lagi cabe-cabe itu ternyata mengandung bakteri berbahaya. Hal ini menimbulkan spekulasi. Prof Yusril Ihza Mahendra pun angkat bicara. Mantan Mensesneg ini meminta pemerintah tidak menganggap sepele, ini subversif.

“Perintahkan BIN selidiki motifnya & perintahkan polisi tegakkan hukum pada pelakunya. Amankan negara, lindungi rakyat,” ujar Yusril melalui akun Twitter-nya, @Yusrilihza_Mhd, kemarin. Dia mencuit cukup panjang soal itu. “Darimana impornya? Tentu dari negara yang melakukan infiltrasi dan subversi untuk melemahkan ekonomi negara kita,” tambahnya.

Yusril mengingatkan, apa yang dilakukan warga China itu jangan dianggap sepele oleh negara. Dia menduga ini rangkaian subversif alias upaya menghancurkan bangsa Indonesia. Karenanya, kegiatan mencurigakan seperti itu harus diwaspadai dan ditangkal. Menurutnya, kegiatan itu dapat meruntuhkan ekonomi suatu negara Bayangkan, kalau cabe, bawang dan aneka sayuran kita musnah karena bakteri yang belum ada penangkalnya, negara pasti impor bahan-bahan tersebut. “Keselamatan negara harus diutamakan. Jaga kekuatan dan ketahanan nasional kita dari setiap bentuk infiltrasi,” katanya.

Akibatnya, petani kita jadi miskin dan tak berdaya, sementara semakin banyak bahan-bahan kebutuhan yang harus diimpor. “Saya minta polisi menyelidiki masalah ini. BIN juga harus mencari tahu apa maksud dibalik WN China yang menanam cabe berbahaya itu,” tegas mantan Menteri Hukum dan HAM ini.

Kepala Biro Humas dan Informasi Publik Kementerian Pertanian (Kementan), Agung Hendriadi mengamini peristiwa itu. Bahkan, pihaknya sudah melakukan pemusnahan atas 5.000 cabe berbakteri itu di Balai Besar Karantina Pertanian (BBKP) Soekarno-Hatta, Tangerang, Kamis, (8/12).

“Bakterinya itu bernama Erwina Chysanthem, bisa membahayakan tumbuhan petani lainnya dan mempengaruhi kesehatan manusia yang mengkonsumsinya,” ujar Agung kepada Rakyat Merdeka, tadi malam.

Agung menceritakan, peristiwa itu diawali dari penangkapan empat pria WNA China oleh Kantor Imigrasi Wilayah I Bogor, Jawa Barat, 10 November lalu. Secara ilegal, mereka bercocok tanam di Kampung Gunung Leutik, Desa Sukadami, Kecamatan Sukamakmur. Daerah itu merupakan kawasan terpencil yang sulit dijangkau. Harus melalui jalan setapak untuk menjangkaunya. Namun, empat orang asal China itu memilih menyewa lahan seluas 4 hektar. Mereka menyewa jasa warga setempat untuk membantu bercocok tanam.

“Heran juga, kenapa dilakukan ditempat terpencil begitu, jangan-jangan sengaja mau berbuat buruk, kita tidak tahu,” katanya.

Singkat cerita, keempat WNA tersebut yakni XQJ (51), YWM (37), GZJ (52) dan GHQ (53) ditangkap. Tiga dari empat orang itu menggunakan paspor turis dari China, salah satunya sudah habis masa izin tinggalnya. Sedangkan satu orang yakni YWM menggunakan paspor Hong Kong dan pemegang kartu izin tinggal sementara (KITAS) yang diterbitkan oleh Imigrasi Tangerang.

Pihak Imigrasi Bogor menahan empat WNA itu, kemudian meminta bantuan pihak Kementan, dalam hal ini Balai Karantia Tumbuhan. Ternyata, ditemukan bakteri berbahaya dari cabe yang diproduksi empat orang itu. Bakteri itu, bernama Erwina Chysanthem. Nah, bakteri ternyata berasal dari benih cabe yang ditanam. Usut punya usut, benih itu dibawa mereka dari China, bukan benih lokal. Benih mengandung bakteri yang masuk dalam golongan organisme pengganggu tumbuhan karantina (OPTK) golongan A1. Kini, petugas terus mencari tahu motif yang dilakukan para pelaku. Namun, untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya, keempat pelaku terancam hukuman 3 tahun kurungan penjara dan denda sebesar Rp 150 juta.

Agung menegaskan, pihaknya tidak melepaskan begitu saja kasus ini. Menurutnya, dia tetap menunggu kejelasan pihak Imigrasi dari mana biji-biji cabe berbakteri itu didapat. Baginya, ini sangat berbahaya dan dapat mengganggu para petani dan masyarakat.

“Ini harus kita cegah agar tidak terulang kembali,” pungkasnya.

Sementara, Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Awi Setiyono saat dihubungi Rakyat Merdeka, belum mengetahui pasti ihwal kasus tersebut. (feb)

(Visited 130 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *