Pulihkan Kesehatan Pasca-Melahirkan Dengan Makan Plasenta Sendiri
BeritaPrima - Setiap bayi terlahir dengan organ bawaan dari dalam rahim ibunya, yakni berupa plasenta atau ari-ari. Di Indonesia, ari-ari biasanya dikubur setelah bayi dilahirkan. Namun, beberapa perempuan ini justru memakannya.
Hal itu seperti dilakukan selebriti Kourtney Kardashian, Alicia Silverstone, dan Gaby Hoffman yang belakangan mengumbar pengalaman dalam mencoba plasenta sendiri. Mereka percaya mengonsumsi plasenta bermanfaat untuk memulihkan kesehatan pasca-melahirkan.
Plasenta, yang tampak seperti daging sanding lamur atau brisket, berfungsi mengalirkan nutrisi kepada bayi melalui tali pusat dan memicu pelepasan hormon yang berhubungan dengan kehamilan. Plasenta yang dikonsumsi dalam bentuk kapsul, atau plasenta segar yang dicampurkan dalam smoothie seperti yang dilakukan selebriti tersebut, dianggap bermanfaat bagi kesehatan mereka.
“Sebagai organ endokrin, plasenta membantu mengontrol sistem adrenal. Ini kemudian akan mengirim sinyal untuk melanjutkan atau berhenti menghasilkan berbagai hormon,” kata Claudia Booker, seorang bidan dan plasenta enkapsulator, seperti dikutip dari Womenshealthmag, Kamis (15/1/2015).
Ada perbedaan antara plasenta yang dimakan setelah lahir dan yang dimakan dalam bentuk pil. “Kebanyakan perempuan tidak makan plasenta setelah melahirkan. Saya hanya punya sedikit klien yang mau makan plasenta mereka setelah melahirkan,” tuturnya.
Booker melanjutkan, mereka yang mau mengonsumsi langsung plasenta biasanya akan mengambil seukuran uang kertas untuk dicampurkan ke beberapa jenis minuman. Mereka percaya bahwa dengan segera memakannya, oksitosin dapat mengurangi kram pasca-melahirkan.
Ada juga sebagian perempuan yang tidak memiliki akses obat untuk menghentikan perdarahan postpartum (pasca-melahirkan). Pada kondisi tersebut, mereka menaruh sepotong plasenta di bawah lidah, di samping rahang, atau di dalam anus.
“Lokasi tersebut adalah tempat terbaik tubuh untuk menyerap oksitosin dari plasenta dengan cepat. Itulah mengapa beberapa orang menggunakannya, sebagai upaya terakhir untuk mencegah perdarahan pasca-persalinan,” jelas Booker.
Mayoritas klien Booker, menelan plasenta mereka dalam bentuk kapsul dengan harapan mendapat tiga manfaat utama. Pertama, plasenta meningkatkan produksi susu dengan mengirim sinyal ke sistem adrenal untuk membuat lebih banyak prolaktin yang merupakan hormon pemicu ASI.
Kedua, ada efek estrogen pil plasenta dapat membuat sistem hormonal, tidak membuat penurunan drastis pada kadar hormon estrogen setelah melahirkan, sehingga tidak menyebabkan penurunan emosional pada perempuan. Alasan ketiga adalah untuk mengatasi anemia.
Meski demikian, para ahli mengakui belum ada penelitian atau bukti medis yang dengan kuat menunjukkan pembenaran terhadap kepercayaan masyarakat tersebut.
“Saya biasanya tidak akan merekomendasikan hal ini. Plasenta memang bergizi, seperti sepotong daging sapi, yang mengandung protein dan sejumlah estrogen,” tegas Mary Jane Minkin, M.D., ahli kandungan dan ginekologi dari Yale Medical School.
Bila perempuan ingin mencoba pengobatan ini, memilih plasenta dalam bentuk pil lebih disarankan untuk keamanan dan kebersihan. Akan tetapi, sebaiknya para ibu berkonsultasi mengenai keputusan tersebut terlebih dulu ke dokter. (aud)

