Ketika Batu Akik Sungai Klawing Naik Daun
BeritaPrima, Purbalingga - Sungai Klawing merupakan sungai utama yang ada di Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah. Sungai yang berhulu dari Gunung Slamet ini membelah Purbalingga dari Utara ke Selatan dan bermuara pada pertemuan dengan sungai Serayu.
Di sepanjang sungai Klawing ternyata menyimpan potensi luar biasa. Diantaranya beberapa jenis batu seperti Jasper, Crystal Quartz, Hematite, dan Citrine. Batu-batu ini mempunyai aneka warna menarik sehingga bisa diproses menjadi perhiasan. Salah satunya dibuat menjadi cincin batu akik yang dikenal dengan sebutan akik sungai Klawing.
Beberapa waktu terakhir akik asal Purbalingga lagi naik daun. Tingginya permintaan pasar ini membuat masyarakat sekitar Sungai Klawing beralih profesi menjadi pengrajin batu akik. Coba saja datang ke sungai Klawing, di sepanjang sungai itu bisa dengan mudah ditemui warga, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa, sibuk mencari batu di sungai.
Bukan sejak sebulan lalu Bupati Purbalingga Sukento Ridho Marhaendrianto mewajibkan seluruh PNS di Pemkab Purbalingga untuk mengenakan batu akik yang dihasilkan dari sungai Klawing. Tujuannya tentu saja untuk promosi, agar potensi ekonomi masyarakat lokal dapat terangkat.
Untuk mendapatkan batu yang bagus tidaklah mudah. Terkadang memang ditemukan di pingiran sungai, namun tak jarang juga ada warga yang harus bersusah payah mendapatkannya dengan menyelam ke dasar sungai.
“Batu dari sungai Klawing ini ramainya sejak 2013, sekarang banyak orang dari luar kota yang datang sampai kerumah saya hanya untuk mendapatkan batu mentahannya,” kata Karto penambang pasir di Sungai Klawing yang mencari batu di sungai sebagai sambilan, Rabu (18/2/2015).
Karto yang sudah mencari batu di sungai Klawing untuk dijadikan akik ini sudah sejak 2007, namun saat itu batu-batu tersebut hanya dijual mentahan ke daerah Bandung dan Ciamis. Tapi saat ini, sejak ramai pecinta batu akik, pendapatannya bertambah.
“Dulu belum ramai biasanya kirim ke Bandung sama Ciamis sampai dua kibik dihargai 1,5 juta, sekarang sudah ramai yang nyari penghasilannya nambah, cukup untuk makan anak dan istri,” ujarnya.
Semakin gencarnya bisnis batu akik, Bupati Purbalingga, Sukento Rido Marhaendrianto, akan secepatnya membuat regulasi terkait dengan penambangan maupun distribusi batu mulia dari Sungai Klawing. Untuk hal ini, ia akan melakukan studi banding ke Aceh.
Menurut informasi, Aceh memilik regulasi terkait dengan batu mulia, sehingga Purbalingga perlu mencontoh regulasi yang dibuat Aceh agar potensi batu mulia Sungai Klawing bisa terjaga. Selain itu, harga batu mulia Sungai Klawing bisa lebih tinggi seperti di Aceh.
“Kalau sekadar membuat regulasi mungkin kami bisa minta copy-nya lewat e-mail. Namun kami juga perlu mengetahui penerapannya di lapangan seperti apa, sehingga harus datang ke sana,” kata Sukento, Minggu (15/2/2015).
Sukento bakal mengirimkan proposal ke pemerintah pusat untuk meminta bantuan dalam mengkaji semua potensi batu mulia Sungai Klawing yang ada di Kabupaten Purbalingga. “Proposalnya sudah jadi, tinggal dikirimkan,” katanya.
Wakil Bupati Tasdi mengaku saat ini geliat batu akik Purbalingga ditangani oleh rakyat. “Artinya, akik berkembang, rakyat senang,” katanya.
(Dimas Wahyu)


