Pidato Jokowi di KAA Sekedar Pencitraan!
BeritaPrima, Jakarta - Riuh suara itu menyambut pidato Joko Widodo (Jokowi). Pidato Jokowi terkait dengan mimbarnya di Konferensi Asia-Afrika (KAA) disambut pujian yang luar biasa oleh dunia internasional. Namun, ternyata tidak semua orang memandang pidato Jokowi sebagai ultimatum.
Dewi Haroen, pakar psikologi politik dari Universitas Indonesia (UI), menilai bahwa pidato tersebut harus diwaspadai oleh Jokowi sendiri karena Indonesia masih ketergantungan di dunia internasional.
“Sebetulnya, kita tidak bisa sekedar tutup mata dan mengkritik, karena memang mereka pegang peranan itu, mengkritik tetapi akibatnya harus dipikirkan juga. Karena kita masih ketergantungan dengan dunia internasional,” kata Dewi saat dihubungi, di Jakarta, Jumat (24/4/2015).
“Ini seperti hanya gong gong saja, tetapi ketika tuannya ngomong diam saja, itu nanti yang ditangkap rakyat,” tambahnya.
Dewi juga mengkhawatirkan bahwa pidato ini hanya dijadikan sebagai ajang pencitraan saja. Baginya, rakyat menunggu realisasi dari jokowi bukan hanya sekadar pencitraan. Bahkan, Dewi menganggap bahwa pidato ini hanya jadi pencitraan Jokowi di dunia internasional.
“Saya khawatir ini hanya pencitraan lagi untuk Indonesia, sudah cukup kampanyenya. Sekarang itu realisasinya yang ditunggu oleh rakyat. KAA ini seperti pencitraan beliau di internasional, tetapi buktinya sampai saat ini hukman mati belum dilaksanakan juga,” pungkasnya.
(Agil Kurniadi)


