Ratusan Akun Bisnis Seks Online Bergerak Bebas Sejak Lama

Deudeuh menjajakan diri melalui akun Twitter.

Deudeuh menjajakan diri melalui akun Twitter.

BeritaPrima, Jakarta - Bisnis seks online langsung menjadi perhatian aparat kepolisian sejak tewasnya Deudeuh Alfisahrin (26) di kawasan Tebet. Padahal sudah sejak lama akun prostitusi online beredar sedemian bebas. Jumlahnya pun mencapai ratusan di jejaring sosial Twitter.

Seperti diberitakan Deudeuh diduga kuat bahwa pelaku pembunuhan Deudeuh lebih dari satu orang. Deudeuh alias Tata dikenal sebagai pekerja seks online. Ia menjajakan dirinya melalui akun Twitter. Pelanggan yang berminat untuk membokingnya kemudian diundang untuk datang berkencan di kamar kosnya.

Melihat adanya temuan ini, polisi mulai ambil langkah. Mereka akan meningkatkan patroli cyber terutama dalam bisnis prostitusi.

“Kita terus melakukan patroli cyber di mana penyidik terus memantau penyimpangan yang terjadi di media sosial atau lainnya,” ujar Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Martinus Sitompul.

Berdasarkan kasus-kasus sebelumnya, untuk mengungkap prostitusi online ini tidak semudah yang biasanya. Penyidik, juga kata mantan Kabid Humas Polda Jabar ini, pernah menangkap pelaku yang menjajakan diri melalui Facebook.

“Pelaku menawarkan sejumlah wanita yang diakuinya sebagai model dengan tarif Rp700 ribu hingga puluhan juta,” jelas dia.

Sementara itu, terkait dengan akun Twitter Deudeuh dengan nama @tataa_chubby yang secara gamblang menuliskan informasi yang tidak biasa. Bahkan, mengarah bahwa dia mengungkap “informasi pribadi” melalui media sosial itu akan dipastikan dikelola pribadi atau orang lain.

Sebab, banyak juga kasus profile mereka dibuat oleh orang lain. “Jadi kita juga harus hati-hati, sehingga untuk mengungkap kasus ini tidak bisa langsung melacak ip adress mereka, namun harus melalui penyamaran tentunya,” katanya.

Berdasarlam penulusuran BeritaPrima, sangat banyak akun Twitter pekerja seks online yang menjajakan dirinya secara online. Jumlahnya tidak hanya puluhan, tetapi bisa mencapai ratusan bahkan mungkin ribuan.

Ada yang menjajakan diri melalui akun pribadi seperti @tataa_chubby, tetapi tak sedikit juga yang menjual diri melalui akun agen atau semacam germo. Modusnya macam-macam. Ada yang seperti dilakukan Deudeuh, yakni mengundang tamu untuk berkencan di kamar kos atau apartemen dimana si cewek tinggal. Ada juga yang lokasi kencannya harus di hotel.

Begitu pun dengan model transaksinya juga beragam. Ada yang mewajibkan pelanggan untuk membayar down payment (DP) terlebih dahulu. Ada juga yang tak mengharuskan DP.

Umumnya, mereka memasang tarif, nomor telepon dan cara bertransaksi secara terang-terangan di profil mereka. Bahkan yang memprihatinkan, mereka memasang foto-foto alat kelamin dan buah dadanya tanpa malu-malu, termasuk foto-foto saat mereka menservis pelanggannya. Tetapi banyak juga yang menyembunyikan wajah dan jati diri aslinya.

Akun-akun semacam itu berkembang sedemikian bebasnya sudah sejak bertahun-tahun lalu. Untuk menemukannya juga sangat mudah, tidak perlu melalui razia yang rumit. Bahkan anak-anak juga bisa begitu mudah untuk mengaksesnya, cukup dengan memfollow, karena sebagian besar akun semacam itu tidak mengunci akun.

Karena itu cukup aneh bila pihak kepolisian baru turun tangan setelah terjadinya kasus kematian Deudeuh. Padahal akun-akun esek-esek semacam itu sudah menyebar luas sejak lama.

(Febrizky Akbar)

 

(Visited 1.596 times, 1 visits today)
Kategori: Peristiwa
Tags: #Pembunuhan

Write a Comment

Your e-mail address will not be published.
Required fields are marked*