Ada Penyelewengan Sejarah Dalam Film Soekarno!
BeritaPrima, Jakarta - Film Soekarno karya sutradara Hanung Bramantyo dianggap melakukan penyelewengan sejarah. Sebab sosok Riwu Ga yang selama ini dikenal sangat setia pada Bung Karno justru digambarkan sebagai sosok pengkhianat.
Menurut Peter Rohi, wartawan senior selaku pengamat sejarah, sosok Riwu Ga sangat setia dan mengikuti serta mengawal Bung Karno sejak tahun 1934 sampai Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia (RI) pada tahun 1945. “Pada masa Soekarno belum jadi Presiden dan tanpa pengawalan, Riwu Ga menjadi penjaga setia Bung Karno. Bahkan ketika Soekarno tidur bersama Inggit Ginarsih, Riwu Ga tidur di depan pintu kamar,” kata Peter saat diwawancarai BeritaPrima, Kamis (21/5/2015).
|
Pilihan Redaksi
|
Dalam buku: Soekarno, an Autobiography as told to Cindy Adams, dilukiskan Riwu sebagai watchdog yang selalu berdiri di samping Bung Karno, sebgai seorang pengawal yang setia, siap menjaga Bung Karno dari setip ancaman marabahaya. Dan ia pula yang ditugaskan oleh Suku Sabu ketika melepaskan Riwu menjaqga Bung Karno dengan upacara Jingitiu, suatu ritual sumpah menurut adat masyarakat Sabu.
Dalam film Hanung Bramantyo, hal itu diputarbalikkan sama sekali. Riwu yang sederhana itu digambarkan sangat membenci Fatmawati dan merobek-robek foto Fatmawati, pada hal ia menyayangi Bung Karno dan mengenal Fatmawati sejak “kost” di rumah BK-Ibu Inggit. Dalam film itu Riwu yang buta huruf itu minggat dengan menuliskn sebuah surat yang ditinggalkan pada Bung Karno. “Tentu saja, keluarga Bung Karno seperti Guntur yang termakan film tanpa riset itu ikut mengumpat-umpat Riwu Ga, dan konon setelah menonton film itu Guntur sangat benci pada Riwu. Pada hal, Guntur ketika bayi diasuh oleh Maria, istri Riwu yang meninggal di Ende,” sesal Peter.
Peter menyayangkan kelakuan Hanung yang malas melakukan riset serta fokus hanya mengejar uang. Ia mengaku telah menegur Hanung, namun sutradara muda tersebut justru menantang balik. Hanung dengan enteng menantang Peter supaya berlomba dalam seni. “Saya menyesalkan anak muda yang selalu merasa benar dan tidak mau untuk belajar,” pungkas Peter.
(Aditya Sanjaya)


