Ahok Ungkap Modus Korupsi Yang Dilakukan Anak Buahnya

Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama.
BeritaPrima, Jakarta - Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama, mengungkapkan modus praktik korupsi yang, menurut dia, sering dilakukan oleh oknum anak buahnya sendiri untuk mencari keuntungan berlipat. Ini terlihat dari anggaran suatu proyek pembangunan sarana olahraga Pemerintah Provinsi DKI.
Di depan para atlet provinsi DKI yang baru saja berlaga di pesta olahraga SEA Games ke-28 di Singapura, Ahok, sapaan akrab Basuki, mengatakan oknum anak buahnya kerap melihat celah untuk melakukan tindakan korupsi saat menentukan harga satuan yang harus disertakan dalam kegiatan pengusulan suatu proyek.
Ahok mencontohkan ditemukannya anggaran sebesar Rp48 miliar yang telah disetujui, dan diusulkan oleh Dinas Olahraga dan Pemuda DKI dalam APBD DKI tahun 2015. Anggaran tersebut diusulkan Disorda untuk membangun sebuah Gelanggang Olahraga (GOR) di kawasan Pancoran.
Ahok mengatakan besaran dana tersebut tidak masuk akal. GOR tidak direncanakan untuk dibangun dengan memenuhi standar internasional.
Berdasarkan analisis terperinci yang dilakukan oleh salah satu BUMD milik Pemerintah Provinsi DKI, Ahok mengatakan GOR serupa bisa dibangun oleh BUMD itu dengan biaya hanya Rp35 miliar.
“Dengan biaya Rp35 miliar itu, dia (BUMD) sudah untung. Ini berarti ada selisih buat dikorupsi Rp13 miliar,” ujar Ahok di Balai Agung Balai Kota DKI, Selasa, 4 Agustus 2015.
Sementara bila disederhanakan lagi dengan menghilangkan komponen bangunan yang tidak perlu seperti gaya arsitektur yang berlebihan, Ahok mengatakan anggaran bisa lebih ditekan hingga Rp25 miliar. Berdasarkan keterangan dari BUMD yang ia minta untuk melakukan analisis, Ahok mengatakan anggaran Rp48 miliar adalah anggaran yang bisa digunakan oleh BUMD itu untuk membangun sebuah GOR internasional yang memenuhi standar untuk melaksanakan pertandingan sekelas ajang olimpiade.
“Makanya pengusulan anggaran seperti itu kurang ajar kan,” ujar Ahok.
Ahok memastikan ia telah mencoret kemungkinan pencairan anggaran tersebut melalui sistem e-budgeting.
Namun, Ahok menyampaikan, hal utama yang harus menjadi perhatian adalah tidak optimalnya penggunaan anggaran pemerintah, terutama Pemerintah Provinsi DKI selama ini untuk melakukan pembinaan di bidang olahraga.
Selama bertahun-tahun, dengan anggaran yang terlampau besar, Pemerintah Provinsi DKI membangun sarana-sarana olahraga dengan kualitas yang tidak memadai.
“Anggarannya Rp48 miliar, tapi dapat sarana olahraga kelas kampung,” ujar Ahok.
Ahok menilai hal tersebut berimbas terhadap prestasi dari para atlet. Ahok mengapresiasi keberhasilan 128 atlet DKI yang menyumbang sebanyak 15 dari total perolehan 47 medali emas Indonesia di SEA Games. Meski demikian, Ahok tetap menekankan, dengan anggaran yang begitu besar, DKI seharusnya bisa berkontribusi lebih besar pula dengan mengantarkan Indonesia menjadi juara.
Di bawah kebijakan reformasi birokrasi yang dijalankan oleh pemerintahannya, Ahok menjanjikan penyelewengan anggaran, termasuk di bidang pembinaan olahraga, tidak akan terjadi lagi.
Menjelang Asian Games 2018, DKI akan melakukan banyak rehabilitasi sarana olahraga. Sebelum Asian Games terlaksana, Ahok menjanjikan setiap sarana olahraga akan menjadi semacam markas bagi masing-masing cabang olahraga unggulan di DKI.
“Kalau setiap cabang ada rumahnya, atlet akan merasa enak berlatih di tempat di mana mereka telah terbiasa,” ujar Ahok. (feb)


