BeritaPrima.com, Pasuruan - Ketua KBIH Arafah, Pandaan, Pasuruan, Nurul Huda, mengaku menyesal telah memberangkatkan 12 calo jamaah haji lewat Filipina sehingga menemui masalah. Dia menceritakan proses keberangkatan para WNI hingga sampai ditahan di Filipina.
“Ini baru pertama kali (memberangkatkan jamaah) lewat Filipina,” kata Nurul Huda di rumahnya Jalan Raya Pandaan-Prigen, Jalan Raya Sumbergedang, Kecamatan Pandaan, Kamis (25/8/2016).
Nurul menceritakan “jalan terjal” jamaah yang diberangkatkannya sebelum ditahan pihak imigrasi Manila. Jamaah yang sudah membayar uang ratusan juta rupiah ini harus dua kali pulang pergi Surabaya – Manila untuk mengurus administrasi keberangkatan haji.
“Jamaah dua kali berangkat ke Manila. Pertama saat bulan puasa. Tidak langsung ke Manila tapi transit di dua bandara. Dari Surabaya ke Jakarta, dari Jakarta ke Kuala Lumpur, lalu dari Kuala Lumpur ke Manila,” terang Huda.
Di Manila, Huda menyebut jemaahnya mengurus administrasi yakni visa dan paspor. Setelah itu mereka kembali pulang dengan rute yang sama saat berangkat.
Pada 16 Agustus lalu, jamaah yang “dikomandani” istri Nurul Huda, Nurul Mahmudah, berangkat ke Manila dengan rute Surabaya – Jakarta – Kuala Lumpur – Manila.
“Di Manila semua paspor jamaah diberikan. Namun saat di Bandara tiba-tiba istri saya tidak bisa dihubungi. Dan akhirnya saya mendapat kabar musibah ini,” terang Huda.
KBIH Arafah, Pandaan, merupakan 1 dari 7 biro perjalanan yang diduga terlibat dalam keberangkatan 177 calon jamaah haji Indonesia lewat Filipina dan diamankan pihak imigrasi setempat. Diketahui 10 dari dari 177 WNI tersebut merupakan warga Kabupaten Pasuruan dan 2 dari Sidoarjo.
Selain KBIH Arafah, biro lainnya yakni PT Taskiah, PT Aulad Amin, PT Aulad Amin Tours Makassar, PT Shafwa Makassar, Travel Hade El Barde, dan Kelompok Bimbingan Ibadah Haji (KBIH) Arafah. (feb)
BeritaPrima.com Bicara Fakta