Penurunan Harga Minyak Tak Pengaruhi Pasar Properti Indonesia

Pasar properti di Indonesia masih bergairah.

Pasar properti di Indonesia masih bergairah.

BeritaPrima, Jakarta - Harga minyak mentah telah menurun hingga sekitar 60% sejak pertengahan 2014. Di Indonesia, hal ini memiliki dampak yang besar bagi para produsen minyak,namun tidak bagi para konsumen akhir. Karena itu, anjloknya harga minyak tidak berdampak signifikan terhadap pasar properti.

Pemasukan minyak telah menurun secara drastis dan diperkirakan akan turun lebih dari 30% pada 2015. Alasannya, beberapa proyek telah ditunda, dan banyak layanan minyak serta kontrak eksplorasi juga dibatalkan. Produsen minyak terbesar di Indonesia, Pertamina, mengumumkan bahwa belanja modal dikurangi hingga hampir 50%.

Berita ini menimbulkan pesimisme di pasar, khususnya bagi mereka di industri properti. Mengutip laman properti global Lamudi, perekonomian Indonesia tidak hanya didorong oleh minyak. Sumber daya alam (SDA) seperti minyak dan gas serta pertambangan hanya menyumbang sekitar 11 persen dari pendapatan domestik bruto (PDB) Indonesia, dibandingkan misalnya, Nigeria yang sektor migas nya menyumbang sekitar 35 persen dari total PDB nya.

Indonesia sering disalahartikan sebagai produsen minyak besar karena pernah menjadi anggota OPEC. Padahal produksi minyak Indonesia telah berkurang selama dekade terakhir. Bahkan PDB Indonesia lebih banyak disumbang oleh industri manufaktur yang menyumbang sampai 24 persen dari total PDB.

Berkaca opada pengalaman tahun 2013 ketika harga minyak dunia naik hingga 44 persen, harga properti juga naik sekitar 35 persen. Menurut Managing Director Lamudi, Karan Khetan, perekonomian Indonesia lebih didorong oleh para konsumer.

“Dalam sebuah ekonomi yang ditenagai oleh konsumer, dan hanya memiliki kontribusi kecil dari minyak dan gas, kebanyakan konsumennya tidak merasakan fluktuasi dari harga minyak dunia. Jadi hal ini tidak terlalu berpengaruh. Pasar properti masih akan menghiraukan perubahan ini hingga status quo nya benar-benar berubah,” ujar Karan Khetan.

Sebagai negara dengan populasi terbanyak keempat di dunia, Indonesia memiliki konsumen yang besar dan daya konsumsi mencapai hingga 60 persen dari PDB. Karena itu, perekonomian Indonesia tidak akan banyak terpengaruh perubahan harga minyak karena tingkat pengeluaran konsumen jauh lebih besar dari itu.

Alasan lainnya mengapa para konsumen tidak banyak terpengaruh harga minyak, menurut Karan, adalah karena harga BBM di Indonesia dikontrol oleh pemerintah. Meskipun harga jual BBM selama ini mengalamifluktuasi naik dan turun, namun tidak terlalu jauh. (feb)

 

Kategori: Properti

Write a Comment

Your e-mail address will not be published.
Required fields are marked*