Awas, Wabah MERS Kembali Mengancam

wabahmers

Wabah Mers kembali merebak.

BeritaPrima, Jakarta - Hanya dalam dua pekan, jumlah orang yang dikarantina meningkat dari segelintir menjadi ribuan orang di Korea Selatan (Korsel), akibat merebaknya wabah MERS yang tidak diantisipasi dengan baik oleh pemerintah.

Media Korsel Chosun Ilbo, dengan tegas menyebut pemerintah gagal menangani wabah mematikan. Empat dari 41 orang pasien telah meninggal, sekitar 3.000 orang dikarantina, termasuk lebih dari 1.500 tenaga medis.

Sejak pasien pertama dirawat di Seoul, pada 18 Mei, dokter telah meminta otoritas kesehatan melakukan pemeriksaan. Tapi, ditolak oleh otoritas kesehatan, yang bersikeras menolak kemungkinan MERS.

Alasan otoritas kesehatan, pasien hanya pernah berada di Bahrain, yang tidak pernah terjadi kasus MERS. Saat otoritas kesehatan akhirnya melakukan pemeriksaan, situasinya sudah sangat terlambat.

Sebagian besar kasus penularan, melibatkan orang-orang yang pernah berada di rumah sakit, tempat pasien pertama dirawat. Wabah sudah menyebar, sulit melacak semua orang yang pernah melakukan kontak dengan penderita.

Otoritas kesehatan telah kehilangan waktu berharga, untuk melacak orang-orang yang mungkin sudah tertular, hingga orang-orang itu akhirnya masuk ke rumah sakit dengan kondisi sudah terinfeksi.

Setelah membayar mahal akibat dari pengabaian mereka, para pejabat Korsel malah saling tuding. Menteri Kesehatan Moon Hyung-pyo membantah kementeriannya salah dalam melakukan penanganan.

Middle East Respiratory Syndrome atau MERS, adalah penyakit mematikan yang disebabkan virus dalam kelompok Corona, satu keluarga dengan virus yang menyebabkan penyakit mematikan lainnya, yaitu SARS.

Sekalipun telah terdeteksi pada manusia sejak 2012, ilmuwan dari Universitas Columbia, Ian Lipkin, mengatakan, belum diketahui dari mana asal virus, yang menyerang paru-paru dan mengakibatkan pneumonia berat itu.

Kasus pertama terdeteksi di Arab Saudi pada April 2012, dengan lebih dari 440 orang telah dilaporkan meninggal. Namun, hingga saat ini, belum ada vaksin atau obat bagi para penderita yang terinfeksi.

Ada spekulasi virus berasal dari hewan seperti unta, karena ditemukan antibodi terhadap virus dalam tubuh hewan yang hanya ada di Timur Tengah itu. Sebelumnya, MERS disebut tidak menular dari manusia ke manusia.

Faktanya, MERS saat ini lebih mudah menular dari manusia ke manusia, bahkan dengan tingkat fatalitas yang jauh lebih tinggi daripada SARS, memicu kekhawatiran telah terjadinya mutasi virus.

Merujuk apa yang terjadi di Korsel, penularan MERS diduga tidak membutuhkan kontak langsung, tetapi dapat menyebar di udara. Walau belum terbukti melalui penelitian, virus MERS saat ini tampak menyebar semudah influenza.

Gejala infeksi MERS juga serupa dengan influenza, seperti demam, batuk, radang tenggorokan, serta sesak napas yang dapat berkembang menjadi infeksi saluran pernapasan akut, serta pneumonia berat.

Pasien pertama MERS di Korsel, disebut adalah pemilik perusahaan alat pertanian di Bahrain, yang kembali ke negaranya pada 4 Mei lalu. Dia memperlihatkan gejala seperti influenza, delapan hari kemudian.

Pria berusia 68 tahun itu dirawat pada rumah sakit di Gyeontaek, 65 kilometer dari Ibu Kota Seoul. Dia tidak diisolasi, bahkan disatukan dalam kamar perawatan bersama pasien lain.

Virus pun menyebar bukan hanya pada pasien yang sekamar, lantaran penderita MERS berkali-kali dibawa keluar dari kamar perawatan, untuk menjalani pemeriksaan di ruangan lain.

Seperti halnya penderita influenza, pria itu juga bersin yang artinya menyebar virus ke udara. Butuh beberapa hari hingga pria itu, akhirnya didiagnosa terinfeksi virus MERS yang mematikan.

Pejabat kesehatan Korsel sempat meremehkan potensi penyebaran MERS, dengan menganggap Bahrain bukan merupakan wilayah penularan MERS, yang sebelumnya diyakini hanya di Arab Saudi dan Uni Emirat Arab (UEA).

“Kami melaporkan dia ke pusat pengendalian penyakit. Tapi, dilepas karena dia hanya pernah berkunjung ke Bahrain,” kata seorang pejabat rumah sakit. Akhirnya, semakin banyak waktu terbuang, untuk mencegah penyebaran virus.

Bahkan putra pria itu, yang kemudian juga terinfeksi, bebas melakukan perjalanan ke Hong Kong dan China. Saat ini, dia dilaporkan diisolasi di sebuah rumah sakit di China.

Reaksi Indonesia

Wajar jika pemerintah tidak bersikap gegabah, untuk tidak memicu kepanikan publik, dengan tidak mengeluarkan komentar yang dapat memicu keresahan. Namun, di balik ketenangan, semestinya juga ada langkah pencegahan.

Tapi, pemerintah Indonesia, hingga saat ini belum melakukan langkah-langkah khusus. Perjalanan ke Korsel tidak dibatasi, belum juga ada pemeriksaan khusus untuk mencegah adanya penderita MERS yang tiba di Indonesia melalui bandara.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri RI Arrmanatha Nasir, mengatakan, belum ada WNI tertular MERS di Korsel. Pemerintah hanya memberikan informasi kepada WNI yang bermukim, atau berkunjung ke Korsel agar berhati-hati.

Dia menyebut informasi yang disampaikan baru berupa imbauan. Padahal, pemerintah Korsel justru telah menangani wabah MERS, layaknya dalam situasi darurat, dengan mengeluarkan beberapa instruksi pada warganya.

Belajar dari kegagalan pemerintah Korsel, untuk mengantisipasi penyebaran wabah MERS sejak tahap awal, pemerintah Indonesia sebaiknya tidak meremehkan ancaman penyebaran MERS.

Sosialisasi perlu dilakukan oleh otoritas kesehatan, terutama pada para tenaga medis, tentang bagaimana mendeteksi virus MERS dan penanganannya. Saat ini, Korsel adalah negara yang lebih maju dari Indonesia.

Jika negara lebih maju, dengan sistem kesehatan lebih baik, dapat melakukan kesalahan, penyebaran wabah bisa terjadi lebih buruk di Indonesia, yang masih perlu banyak berbenah dalam hal sistem perawatan kesehatan. (feb)

(Visited 58 times, 1 visits today)
Kategori: Kesehatan
Tags: #WabahMers

Write a Comment

Your e-mail address will not be published.
Required fields are marked*