Imbas Media Sosial, Pesta Bikini Mengarah ke Seks Bebas

Pesta Bikini diduga hanya sebagai foreplay untuk pesta yang mengarah pada hubungan bebas.
BeritaPrima, Jakarta - Serbuan teknologi informasi melalui layanan-layanan media sosial, jika tak ditanggapi dengan bijak, justru akan jadi pemicu pergaulan bebas buat generasi muda Indonesia. Kasus Deudeuh Alfi Sahrin dan kini soal pesta bikini pelajar jadi contoh pengaruhnya.
Dalam kasus Deudeuh, medsos dijadikan cara lain menjajakan bisnis hawa nafsu. Sementara medsos juga membuat para remaja usia sekolah, matang lebih cepat.
Akibatnya, pergaulan bebas pun kian mudah dijamah para pelajar. Kegiatan macam pesta bikini pelajar pun jadi salah satu eksesnya.
|
Pilihan Redaksi
|
“Ini faktor teknologi informasi yang sudah sedemikian rupa mengepung kita. Dengan gampang mereka mendapatkan informasi, terkait pergaulan metropolitan. Sekarang usia SMP, umur 15 tahun saja sudah matang mereka,” ungkap pemerhati gaya hidup, Moammar Emka, Kamis malam (23/4/2015).
Soal pergaulan bebas, Emka juga menilai hal demikian tak lepas dari lingkungan remaja yang ada di sekolah. Pihak sekolah dianggap ikut bertanggungjawab soal pergaulan para murid mereka.
“Pendidikan di sekolah itu apa yang diajarkan, kemudian benar-benar jadi kiblat (perilaku) buat mereka atau malah sebaliknya? Jangan-jangan di sekolah pun pergaulannya sudah sangat bebas. Di beberapa sekolah kalau kita perhatikan, sudah benar-benar bebas,” lanjutnya.
“Apalagi jika dia (remaja) bersekolah di sekolah favorit, terkenal di Jakarta. Pelajar yang kehidupannya kaya punya duit, terpengaruh soal cara berbusana (minim). Itu bisa menular pada pelajar yang enggak ngerti apa-apa,” tambah Emka.
“Menular pada pelajar yang enggak ngerti-ngerti amat soal gaya hidup yang bebas, akhirnya ikut-ikutan. Apalagi kalau ada sarana (pesta) gratis,” ujar penulis buku ‘Jakarta Undercover’ dan ‘In Bed with Model$’ itu.
Pesta dan gaya hidup malam pun tak pelak menjangkiti para pelajar, akibat dari pergaulan bebas di atas, seperti kasus pesta bikini pelajar. Dikhawatirkan, pesta semacam itu malah jadi wadah untuk pesta seks.
“Kalau melibatkan pesta seks, pasti akan jadi miris juga. Fakta lain menyebutkan bahwa misalnya, para pelaku prostitusi itu malah anak remaja. Hampir semua remaja yang ingin melakukan seks pertama, ya kalau enggak sama PSK (pekerja seks komersial), ya sama teman (sekolahnya),” pungkas Emka.
Emka pun mengungkapkan bahwa pesta bikini pelajar yang kini menjadi pergunjingan belum ada apa-apanya bila dibandingkan pesta lebih parah lagi yang sudah banyak terjadi.
Ya, isu soal pesta bikini pelajar mencuat dan ditanggapi negatif oleh berbagai kalangan. Pesta itu digelar pasca-Ujian Nasional para pelajar Sekolah Menengah Atas (SMA) yang diadakan sebuah event organizer (EO), di The Media Hotel & Towers, Jakarta, Sabtu 25 April 2015.
Terlepas dari dibatalkannya party atau pesta tersebut, menurut Emka sedianya acara itu bak sebuah foreplay dalam berhubungan intim.
Pasalnya, tak terkira pesta yang melibatkan pelajar lebih parah dari sekadar pesta bikini pelajar, bahkan hingga berujung pada pesta seks.
“Yang sudah sampai lebih dari sekadar (pakai busana) bikini itu banyak. Yang enggak perlu pakai EO, ada setiap hari,” beber Emka.
“Hampir semua pelakunya paling banyak remaja. Entah itu tontonan bikini, telanjang bareng dan enggak selalu di hotel,” tambahnya
Pesta “Pool Party” seperti itu sedianya sudah dua kali hendak diadakan di lokasi serupa. Yang pertama pada 18 April 2015 dan yang terakhir dan jadi isu hangat, adalah pesta bikini pelajar yang rencananya diadakan akhir pekan mendatang, Sabtu, 25 April 2015.
Undangan pesta itu sempat juga terdapat di media sosial Youtube, namun kini video undangan itu sudah terhapus. Hal itu juga menuai kegelisahan sejumlah pihak sekolah, lantaran nama sekolah mereka diakui dicatut dalam undangan itu.
Sebelumnya, Emka sedianya menilai wajar bahwa para remaja usia SMA, mengekspresikan diri mereka dengan menggelar pesta, bahkan dengan dress code (aturan busana) bikini. Tapi yang akan disayangkan, bilamana pesta itu bisa berujung pada ‘orgy party’.
“Pergaulan anak-anak sekolah sudah sangat bebas, tapi kalau melibatkan sex party pasti akan jadi hal yang miris juga,” tandas Emka. (feb)

