Bangsa Kini dan Harapan Terhadap Pergerakan: Sebuah Seruan Terbuka Untuk Seluruh Mahasiswa Indonesia
Oleh:
MUHAMMAD GUNTUR
Mahasiswa Universitas Khairun – Ternate & Fungsionaris Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Badko Maluku dan Maluku Utara
Carut-marutnya kondisi negeri ini dalam beberapa waktu terakhir tak lepas dari berbagai kebijakan pemerintah yang secara beruntun membuat rakyatnya sendiri semakin tersudut oleh berbagai persoalan-persoalan yang tidak pernah mereka pahami. Kondisi ini jika diperhatikan secara seksama akan melahirkan sebuah kesimpulan radikal bahwa rezim ini dibentuk untuk menindas. Kebijakan demi kebijakan yang tidak pro rakyat berkali-kali diatraksikan didalam panggung hegemoni penguasa. Jelas ini adalah sebuah indikasi dari apa yang digambarkan oleh John E.E Dalberg (1834-1902) tentang “Absolute power corrupts absolutely” bahwa penguasa yang absolut berkecenderungan untuk melakukan segala kejahatan sebagai akibat dari lepasnya kontrol sosial yang memang secara sengaja berusaha dilepaskan oleh penguasa itu sendiri. Dan cara-cara yang dilakukan oleh mereka untu melepasnya adalah dengan membungkam pers dan pergerakan.
Dan Abuse of Power adalah gambaran cocok yang disematkan dalam menyikapi kondisi bangsa yang sekarang, itu jika kita berpikir radikal, cerdas, dan tanggap. Kita akan temui kenyataan bahwa rezim ini sudah semakin berani melanggar konstitusi secara terang-terangan, ini jelas adalah sebuah penghinatan, penghianatan terhadap negara, penghianatan terhadap rakyat. Bagaimana tidak, kenaikan harga BBM yang dilakukan seenaknya, kenaikan harga beras, kenaikan tarif dasar listrik, lembaga negara turut diterjunkan dalam dunia politik, membungkam kebebasan pers (terkait media Islam yang kritis terhadap pemerintah), pelemahan terhadap KPK, Jatuhnya nilai tukar rupiah, serta berbagai ‘kebijakan’ kontroversial lainnya, sudah cukup membuat kita yang berpikir secara radix berkesimpulan bahwa rezim ini adalah rezim yang tidak pantas duduk dipuncak tertinggi dari sebuah bangunan demokrasi, sebab perlahan ia akan menghacurkan gedung demokrasi itu sendiri.
Dibalik riuhnya media-media nasional mempropagandakan kehadiran rezim yang dianggap dapat membawa perubahan bagi bangsa ini, ternyata satu demi satu semua pemberitaan itu menguak dirinya sendiri menjadi suatu realitas yang kontras dengan harapan sebagaimana yang sudah dibangun pada propaganda-propaganda di awal. Kini, di setiap lorong-lorong sempit, perumahan kumuh, desa-desa kecil, kampung-kampung pesisir, di berbagai ruang interaksi masyarakat, rakyat mulai mengeluh dengan kondisi ini. Kemana bangsa ini akan dibawa terhadang oleh ancaman kekosongan isi perut.
Kini, media-media pro rezim itu kembali membangun propaganda baru, menciptakan sebuah opini yang membodohi masyarakat tentang ilusi-ilusi kesejahteraan di masa depan yang bahkan mereka sendiri pun tidak dapat menggambarkan seperti apa bentuknya. Di sisi yang lain media-media tersebut menutup-nutupi berbagai penderitaan rakyat disetiap pelosok negeri dengan pemberitaan-pemberitaan mengenai manuver atraktif rezim seperti; meledakkan perahu penangkap ikan asing, eksekusi duo bali nine (yang belakangan tidak lagi terdengar kabar beritanya), perampasan tanah rakyat yang tidak bayar pajak oleh pemerintah, tol laut yang tidak jelas arah dan bentuknya, dan lain sebagainya.
Posisi Mahasiswa
Harus diakui bahwa Indonesia saat ini sedang menuju ke arah perubahan, tetapi bukan perubahan menuju ke arah yang lebih baik sebaliknya menuju ke arah yang lebih buruk. Perubahan ini secara sistematis tentu akan menimbulkan reaksi sosial, tergantung dari siapa yang akan mengarahkan reaksi sosial itu, entah itu mahasiswa, entah itu oposisi, entah itu pemerintah. Dua pihak terakhir tentu akan membawa kita kembali kepada pertarungan politik yang lebih rumit lagi.
Maka ditengah-tengah pergulatan politik inilah kita butuh sebuah alur politik baru, yang sebisa mungkin terminimalisir oleh kepentingan kelompok politik lain. Mahasiswa sebagai agen of change adalah sebuah identitas yang sudah lama selalu mengambil peran dalam sejarah penting bangsa ini. Peran Sosial mahasiswa ini sebagaimana yang dikatakan oleh Sartono (1978) adalah manifestasi dari kaum intelektual dan cendekiawan dalam suatu lapisan masyarakat yang syarat akan berbagai predikat.
Tonggak sejarah tahun 1908, 1928, 1945, 1966, 1974, hingga reformasi 1998 adalah mozaik-mozaik penting dalam meninjau peran politik mahasiswa, dimana peran itu adalah integral dengan kepentingan rakyat. Sejarah pun membuktikan bahwa pada akhirnya setiap gerakan yang dimotori oleh para mahasiswa itu selalu membuka ruang untuk bertiupnya angin perubahan.
Ironisnya, hari ini mahasiswa kita sudah menjauh dari kecenderungan itu. Ditengah kondisi bangsa yang semakin dibuat sekarat oleh rezim, mahasiswa kita malah sibuk dengan apatisme gaya baru; sibuk syuting acara talkshow di televisi, mempraktekan gaya hidup materialis, dan yang paling buruk adalah membuat video porno. Terjungkalnya moralitas dan identitas mahasiswa ini adalah sebuah otokritik yang sangat terlambat, sebab bangsa ini sudah berada pada titik jenuh jika kita membuat komparasi dengan rezim-rezim otoriter dan totaliter yang pernah berkuasa dahulu dan berakhir dengan dijatuhkan oleh mahasiswa.
Kondisi ini akan mengarahkan opini publik pada mahasiswa sebagai sebuah kelompok yang tidak lagi memiliki peran apa-apa, pada akhirnya dimana-mana orang-orang akan bertanya; “Kemana perginya mahasiswa?”. Maka ketika pertanyaan itu terdengar maka disaat yang sama akan diikuti dengan pertanyaan lain; “Kemana arah masa depan bangsa ini?”.
Harapan Terhadap Pergerakan
Ditengah meningkatnya eskalasi krisis yang terjadi di bangsa ini, semangat pergerakan mahasiswa sebagai agen perubahan diuji secara kritis. Sebuah reaksi sosial atas kondisi yang tercipta oleh ketidakbecusan rezim telah muncul, maka seperti yang dikatakan oleh Sztompka (2004) tentang rebuild of people process sudah sepatutnya dimotori oleh mahasiswa.
Meski sulit karena dunia perguruan tinggi sekarang pun didesain untuk golongan elit dimana mahasiswa yang ada sekarang sebagian besar bukan lagi mahasiswa yang berasal dari kalangan rakyat miskin yang tidak peduli terhadap kondisi rakyat miskin, etos-etos pergerakan tetap masih terpelihara di sebagian mahasiswa yang berasal dari masyarakat miskin, yang peduli terhadap penderitaan rakyat miskin, sebab pada hakikatnya itu adalah penderitaan mereka.
Belakangan, sayup-sayup suara mahasiswa mulai terdengar, tanggal 20 Mei 2015 dipilih sebagai deadline bagi rezim ini untuk memperbaiki kondisi. Tidak persis betul gerakan apa yang akan terjadi tepat di Hari kebangkitan Nasional ini jika memang benar-benar rezim ini tidak segera melakukan perubahan ke arah yang lebih baik, paling tidak mahasiswa telah bersuara, paling tidak pergerakan telah dimulai, mahasiswa akan segera kembali ke panggungnya.
Pada medio maret lalu, gerakan intra-kampus mulai digalang di beberapa universitas terkemuka di negeri ini, mulai dari UI, USU, IPB, Mahasiswa Kalimantan, Mahasiswa Yogyakarta, Mahasiswa Solo, dan beberapa daerah lainnya. Semuanya mengultimatum pemerintah dengan tenggat waktu hingga 20 Mei 2015. Jika tidak ada perubahan atas semua kondisi ini maka kejatuhan rezim telah digaransikan. Meski gerakan-gerakan ini tidak diliput oleh media (karena kebanyakan media Pro Rezim), gerakan mahasiswa ini digaungkan melalui jejaring eksternal, bahkan melalui kampanye sosial media. Ramai-ramai group ruang diskusi dibuka di Facebook, Twitter, BBM, Blog, dan lain sebagainya, baik itu yang “terlisensi” maupun yang tidak “terlisensi”.
Arus desakan terus mengalir di ruang-ruang di dunia maya ini, berbagai kritis dan tuntutan memenuhi setiap wall-wall group yang sengaja dibuat sebagai pusat konsolidasi mahasiswa. Gerakan ini kurang-lebih sangat mirip seperti yang terjadi di Libya, Tunisia, Ukraina, dan Mesir beberapa tahun yang lalu. Meski memang ruang ini “tidak steril” tetapi inilah satu-satunya ruang yang menjadi harapan pergerakan, sebuah ruang dimana mahasiswa juga harus berusaha untuk terhindar dari santapan politik yang dimainkan melalui media pro-rezim. Identitas politik mahasiswa harus tetap dipertahankan untuk melawan arus konspirasi yang dibangun secara masif oleh rezim.
Mengakhiri tulisan ini, dengan harapan agar proses abusing of power belum merambah kepada pembatasan kebebasan berpendapat, kami serukan kepada seluruh mahasiswa Indonesia: bahwa sudah seharusnya untuk segera membangun panggung pergerakan yang lebih luas, kondisi bangsa ini sudah sekarat, jangan dibiarkan mati. Sudah saatnya kita keluar dari dunia maya menuju ke dunia nyata. Sudah saatnya kita berteriak ditengah pembungkaman ini. Jika masih bisa bersuara sekarang, bersuaralah!. Semoga bangsa ini selalu dilindungi Tuhan Yang Maha Esa.***


