Wow, Gubernur Ganjar Habiskan Rp 2 Miliaran Untuk Lawatan ke 3 Negara
BeritaPrima.com, Semarang — Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo telah kembali ke Tanah Air dari lawatan ke luar negeri sejak akhir pekan kemarin. Selama perjalanan 10 hari di tiga negara, Suriname, Belanda, dan Jerman, Ganjar beserta rombongan mengaku telah menghabiskan uang lebih dari Rp 2 miliar.
|
Pilihan Redaksi
|
“Saya detailnya kurang tahu, tetapi yang tahu persis bagian kerja sama. Totalnya sekitar Rp 2 miliaran,” kata Ganjar di Semarang, Rabu (14/10/2015).
Ganjar mengatakan, uang yang habis untuk perjalanan ke luar negeri semuanya akan dipertanggungjawabkan. Setiap rupiah yang bersumber dari dana APBD yang keluar untuk keperluan dinas akan diaudit oleh Badan Pemeriksa Keuangan (BPK).
Ganjar juga menampik kritik dari para aktivis yang menilainya telah menghamburkan uang rakyat untuk perjalanan ke luar negeri. Semua perjalanan dinas yang dilakukannya awal bulan ini mempunyai dampak langsung pada perekonomian di Jateng.
“Ya semua yang resmi dari APBD akan dipertanggungjawabkan. Semua uang akan diaudit oleh BPK. Benar atau salah, nanti publik biar tahu juga. BPK nanti audit akhir tahun. Jika ada kesalahan, ada waktu 60 hari disuruh untuk memperbaiki,” ujarnya.
Ganjar mengaku telah menyiapkan pertanggungjawaban langsung kepada rakyat sejak akhir pekan kemarin. “Laporan sudah saya siapkan minggu lalu. Saya sudah siap. Senin kemarin ada rapat paripurna. Tetapi, tidak ada yang tanya. Kalau minta dilaporkan, tiap hari saya siap,” ujarnya.
Seusai berkunjung ke luar negeri tersebut, Ganjar mengaku mendapat tawaran serupa untuk mengunjungi negeri piza, Italia. Di tempat itu, Ganjar diminta berbicara di forum PBB yang menangani masalah penanggulangan bencana.
“Saya nanti akan pidato di sidang PBB di Italia. Akhir bulan ini undangannya. Namun, berangkat atau tidak akan menunggu respons dari publik, apakah masyarakat mengizinkan gubernurnya bicara di sana atau tidak,” ujarnya lagi.
Sebelum melakukan lawatan ke tiga negara, Ganjar telah melakukan lawatan serupa di Australia dan China. Namun, di dua negara itu, kepergiannya tidak banyak diprotes oleh para aktivis. (ren)

