Lima Jurnalis Bakal Saingi Risma di Pilwali Surabaya

tri-rismaharini

Walikota Surabaya Tri Rismaharini masih diinginkan warga Surabaya nyalon lagi.

BeritaPrima, Surabaya - Pemilihan Wali Kota (Pilwali) Surabaya, Jawa Timur tahun ini, diperkirakan cukup ‘meriah’ dibanding sebelumnya. Sebab, selain diikuti calon dari partai politik (Parpol), ada lima praktisi media massa ikut meramaikan Pilkada yang rencananya digelar serentak pada Desember ini.

Tengoklah ke belakang, tahun 2010 lalu, di Pilwali Surabaya, muncul nama calon dengan background jurnalis, yaitu Arif Afandi berhadapan dengan pendatang baru Tri Rismaharini yang dipasangkan dengan Bambang Dwi Hartono.

Karena sudah menjabat wali kota selama dua periode, oleh Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Bambang diposisikan di kursi dua mendampingi Risma.

Arif Afandi sendiri, saat Bambang menjabat sebagai wali kota, menjadi wakil wali kotanya. Saat hendak maju merebutkan kursi satu di balai kota, dia menggandeng Adies Kadir dari Partai Golkar.

Di babak akhir, Pilwali 2010 yang juga diramaikan calon independen, Fitra Jaya berlatar belakang mantan aktivis dan pengusaha itu, dimenangkan pasangan Risma-Bambang.

Selanjutnya menatap Pilwali Surabaya 2015, yang kembali dimeriahkan calon berlatar belakang wartawan. Bukan hanya satu, tapi lima calon, yaitu M Mahmud, Sukoto, Dhimam Abror dan Budi Sugiharto atau yang akrab disapa Uglu alias Ugik. Terbaru, muncul nama Azrul Ananda, Direktur Jawa Pos, juga anak mantan Menteri BUMN, Dahlan Iskan, dikabarkan juga akan ikut meramaikan bursa Pilwali Surabaya.

Meski belum menentukan komposisinya secara pasti terkait siapa yang akan menjadi pasangannya dan apakah maju via Parpol atau independen, ke lima praktisi media ini, diketahui sudah melakukan lobi politik dan sama-sama mengukur kekuatan.

Mereka juga sama-sama berupaya mendekati Parpol agar mau mengusungnya meraih kemenangan. Sebab, lawan mereka nanti, bukan calon remeh temeh.

Sebut saja calon incumben Tri Rismaharini, yang sudah teruji kemampuannya memimpin Kota Surabaya. Elektabilitas Risma diakui banyak kalangan, belum ada tandingnya sampai saat ini.

Kemudian Adies Kadir, yang notabenenya juga anggota DPR. Baginya, Pilwali bukan ‘makanan’ baru. Politisi Golkar ini sudah pernah merasakan kompetitifnya pesta demokrasi lima tahunan itu.

Selain Adies, ada Wisnu Sakti Buana dari PDIP, yang saat ini masih menjabat sebagai wakil wali kota menggantikan Bambang DH. Selain Wisnu, PDIP juga memunculkan nama Indah Kurnia dari kader perempuan.

Sedangkan PKB, mewacanakan nama anggota DPR dari Dapil Jawa Timur I, Surabaya-Sidoarjo, Arzetti Bilbina Huzaima Setiawan.

Nah, melihat konstelasi politik jelang Pilwali ini, tentu lima orang berlatar belakang jurnalis tersebut tidak akan tinggal diam memetakan kekuatan politik di Kota Pahlwan.

Misalnya Dhimam Abror. Sebelumnya dia dikabarkan maju di jalur independen. Namun kemudian, mantan Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Jawa Timur ini, menyatakan sudah melakukan pendekatan dan komunikasi ke sejumlah partai.

Saat ini, Abror menjadi Ketua Harian KONI Jawa Timur. Tentu dia memiliki kemampuan mengorganisir massa dari pegiat olahraga maupun atlet serta insan pers.

“Saya terus melakukan komunikasi politik dengan sejumlah partai, bahkan hampir semua partai sudah saya dekati, dan mereka membuka peluang, karena memang saat ini partai-partai sedang dalam proses penjaringan,” kata Abror, Senin kemarin (2/3).

Dia juga menyatakan siap mendaftar jika itu keharusan bagi partai yang akan mendukungnya. “Kalau diwajibkan saya juga siap. Yang pasti saya tidak akan maju lewat jalur independen. Legislatif adalah kepanjangan tangan Parpol. Kontrol partai sangat penting dalam sebuah kepemimpinan,” lanjutnya.

Kemudian M Mahmud. Meski saat ini menjabat Ketua DPRD Surabaya, politisi asal Partai Demokrat ini, juga pernah menjadi pemimpin redaksi salah satu media cetak di Surabaya serta pernah menjabat Sekretaris PWI Jawa Timur. Sebagai anggota dewan dan mantan wartawan, tentu dia juga memiliki lobi kuat di level partai.

Calon dari jurnalis lainnya adalah Sukoto. Kemampuan Dewan Pakar PWI Jawa Timur ini untuk mengorganisir massa juga tidak bisa dipandang enteng. Sebab, dia sudah banyak makan garam soal lobi-lobi.

Bagaimana dengan Uglu? Jurnalis kelahiran Bojonegoro ini, selain fotografer dan wartawan tulis, juga dikenal pelobi andal. Sejak masih berstatus mahasiswa Stikosa AWS, dia sudah menekuni profesinya itu. Dia juga tercatat sebagai pengurus PWI Jawa Timur di bidang multimedia.

Jumat lalu (27/2), oleh Barisan Relawan Jalan Perubahan (Bara JP) Kota Surabaya, Uglu didaftarkan berpasangan dengan Risma di Partai Nasional Demokrat (NasDem).

Kemudian Azrul Ananda juga tak mau kalah. Pengalamannya memimpin media besar akan mampu bersaing dengan para kompetitornya.

Lantas dengan majunya lima calon dari berbasis jurnalis ini, bagaimana sikap wartawan atau media? Ketua PWI Jawa Timur, Ahmad Munir menegaskan, PWI sebagai lembaga profesi wartawan tetap akan bersikap netral dan tidak akan terlibat dalam proses dukung mendukung.

“Secara kelembagaan, kami akan bersikap netral. Mereka (lima bakal calon wali kota dari jurnalis) merupakan kader-kader terbaik. Silakan bersaing secara sehat di Pilwali nanti,” kata Munir, Rabu (4/3).

Kabiro LKBN Antara Jawa Timur ini menyampaikan, sebagai insan pers, wartawan atau media massa harus harus mengedepankan sikap independen.

“Artinya tidak menggunakan media yang dipimpinnya sebagai alat. Tentunya, sikap ini sudah dimiliki oleh mereka (wartawan) yang akan maju di Pilwali. jika ada yang menggunakan sebagai alat untuk sebuah kepentingan, itu akan terseleksi dengan sendirinya oleh pasar,” pungkasnya.

(feb)

(Visited 5 times, 1 visits today)
Kategori: Pemilu

Write a Comment

Your e-mail address will not be published.
Required fields are marked*