Perjalanan Golkar Dalam Dunia Politik di Indonesia

mahkamah-golkarBeritaPrima, Jakarta - Partai Golkar merupakan salah satu partai besar yang memegang peran penting dalam perjalanan politik Indonesia. Lalu, bagaiman sepak terjang Partai Golkar selama ini?

Pada awalnya, Partai Golkar merupakan sebuah ormas yang bernama Sekertariat Bersama Golongan Karya (Sekber Golkar). Sekber Golkar didirikan oleh perwira militer pada 20 oktober 1964. Letkol Suhardiman bersama dengan Perwira Angkatan Darat kemudian menghimpun berbagai elemen masyarakat untuk bergabung ke dalam ormas tersebut.

Tujuan awal dari didirikan Sekber Golkar adalah untuk berpatisipasi dalam kebijakan front nasional. Selain itu, ancaman Partai Komunis Indonesia (PKI) di bidang politik menjadi wadah bagi para fungsionaris partai untuk mengatisipasi pengaruhnya.

Pada akhir 1969, Sekber Golkar kemudian merancang sebuah strategi untuk ikut pemilu 1971. Salah satunya ialah dengan merampingkan kelompok induk organisasi yang berada di bawah ormas menjadi tujuh bagian. Yaitu Kino Kosgoro, Kino Soksi, Kino MKGR, dan Kino Ormas Hankam.

Kemudian pada tahun 1971, Sekber Golkar turut berpartisipasi dalam pemilu sebagai partai politik. Meskipun, terjun sebagai peserta partai politik namun nama yang diusung tetap Golkar tanpa kata partai. Kedudukan Presiden Soeharto sendiri dalam tubuh partai Golkar sebagai penasehat dan menjadi figure sentral dalam perkembangan partai. Bahkan salah satu melumpuhkan lawan-lawan politiknya Golkar melakukan dwifungsi di dalam partisipasi politik. Satu sisi sebagai parpol dan di sisi lain sebagai ormas yang tidak terikat.

Hingga pada tahun 1998, Golkar beralih kepemimpinan Ketua Umum dari Harmoko ke Akbar Tandjung. Selain itu, kejatuhan Presiden Soeharto dijadikan sebagai momentum untuk membangun sebuah gerakan yang baru. Akbar Tandjung sedikitnya membawa perubahan di dalam tubuh Partai Golkar. Sebab sepanjang Orde Baru, Golkar dianggap sebagai bagian dari rezim otoriter yang dipimpin mantan Presiden Soeharto sebagai petinggi Golkar.

Setelah mengalami penurunan suara yang significant, Partai Golkar kembali Berjaya ketika pemilu tahun 2004 berlangsung. Golkar berhasil meraih 20 % suara berhasil mengungguli PDIP, Demokrat dan PKS. Namun, popularitas partai Golkar menurun ketika memasuki pemilu 2009. Partai Golkar kalah pamor dari Partai Demokrat yang berhasil meraup suara terbanyak.

Kemudian pada penyelenggaraan pemilu terakhir pada tahun 2014 kemarin, Golkar kembali berada di posisi kedua pemilu legislatif dibawah PDI-P dengan 14 % suara. Bahkan, Partai Golkar tidak mengajukan nama untuk menjadi Capres ataupun Cawapres yang kemudian dimenangkan oleh Presiden Joko Widodo dan Jusuf Kalla dari Koalisi Indonesia Hebat. Hal ini ditenggarai karena Golkar tidak memiliki sosok yang kuat sebagai capres yang diusung.

Memasuki akhir tahun 2014 dan awal 2015, Partai Golkar masih didera konflik yang berkepanjangan di dalam tubuh partai antara kubu Aburizal Bakrie (Ical) dan Agung Laksono. Hari ini Rabu (25/2/2015) mahkamah partai akan memutuskan kubu mana yang akan tetap menjalankan roda organisasi partai tersebut.

Berikut adalah ketua umum yang pernah memimpin Partai Golkar :
1. Djuhartono (1964-1969)
2. Suprapto Sukowati (1969–1973)
3. Amir Moertono (1973–1983)
4. Sudharmono (1983–1988)
5. Wahono (1988–1993)
6. Harmoko (1993–1998)
7. Akbar Tandjung (1998–2004)
8. Jusuf Kalla (2004–2009)
9. Aburizal Bakrie (2009–sekarang)

(Ichsan Husyaifi)

(Visited 17 times, 1 visits today)
Kategori: Parpol

Write a Comment

Your e-mail address will not be published.
Required fields are marked*