Pertarungan ‘Membobol’ Ring Satu Istana Negara

Presiden Jokowi bersama Kepala Staf Kepresidenan Luhut Panjaitan (kiri), Ketua Umum Golkar dan Koordinator Koalisi Merah Putih (KMP) Aburizal Bakrie (tengah) dan Ketua DPR Setya Novanto (kanan). (Foto: BeritaPrima/feb)
BeritaPrima, Jakarta - Dalam beberapa pekan terakhir, politisi PDI Perjuangan gencar melakukan serangan ke arah istana. Secara telanjang, para anak buah Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri itu menuding adanya pengkhianat dan ‘tukang fitnah’ ring 1 istana yang berusaha menjauhkan hubungan Jokowi dengan partai pengusungnya.
Sang tertuduh itu adalah tiga menteri yang belakangan dijuluki ‘Trio Singa’. Mereka adalah Menteri BUMN Rini Soemarno, Sekretaris Kabinet Andi Widjajanto, dan Kepala Staf Kepresidenen Luhut Binzar Panjaitan.
PDIP pun menuntut agar ketiganya segera di-reashuffle. Satu per satu ‘corong’ PDIP bersuara melalui media untuk menyoal ketiga menteri itu. Sebut saja misalnya Effendi Simbolon yang dari awal terang-terangan menohok ke arah ‘Trio Singa’.
Semula sebagian pengamat menilai, hal itu hanya sebagi manuver pribadi Ketua DPP PDIP tersebut. Namun, belakangan ketika sejumlah politisi PDIP lainnya juga menyuarakan hal sama, akhirnya terkuak bahwa teriakan Effendi dkk ternyata mewakili kegundahan yang terjadi pada Megawati.
Politikus sesnior PDIP Tb Hasanudin mengakui hal ini. “Saya banyak mendengar mulai menghendaki adanya reshuffle di kabinet Pak Jokowi, bahkan secara direktif menunjuk satu dua orang yang konon itu menjadi barrier (pembatas -red) beliau itu antara Istana dengan keputusan partai,” kata Hasanuddin di Jakarta, Rabu (11/2/2015).
Perang dingin Istana dan PDIP semakin panas ketika sejumlah elite partai moncong putih itu tak bisa menembus Istana. Padahal saat ini PDIP punya kepentingan besar untuk berkomunikasi dengan Jokowi menyangkut Calon Kapolri dan status tersangka Komjen Budi Gunawan.
Konflik kubu Istana dengan PDIP yang paling mencolok adalah ketika Plt Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto mengungkap manuver politik Ketua KPK Abraham Samad. Kala itu Hasto terang-terangan menyebut pertemuan politik Abraham juga dihadiri oleh Andi Widjajanto dan Tjahjo Kumolo yang kala itu masih menjabat Sekjen PDIP. Namun, baik Andi maupun Tjahjo membantah ucapan Hasto.
Sejak saat itulah konflik terbuka Istana vs Teuku Umar (tempat tinggal Megawati) kian menganga. Hasto dkk pasang badan mewakili kubu Teuku Umar, sementara Andi yang selalu tampil menangkis berbagai serangan.
Polisi PDIP, Masinton Pasaribu langsung menuding Andi dan dua anggota ‘Trio Singa’ lainnya sebagai brutus.Brutus itulah, menurut Masinton yang menjauhkan Jokowi dengan rakyat dan relawan. Entah rakyat yang mana yang dimaksud Masinton. Mungkin yang dimaksud Masinton adalah menjauhkan Jokowi dengan PDIP.
Tetapi tudingan itu langsung dimentahkan Andi. Putra mendian think tank PDIP, Theo Sjafei, itu justru menganggap aneh tudingan soal brutus. “Analisisnya agak aneh ya karena menyertakan Bu Rini yang tugasnya di luar Istana, dan beliau sama sekali bukan menteri yang turut mengatur jadwal Presiden. Begitu pula saya dan Pak Luhut, yang tidak masuk dalam tim jadwal,” sanggah Andi pekan lalu.
Sanggahan ini bukannya meredakan tensi konflik antara kedua kubu, tetapi justru kian memanas. Namun, waktu tidak bisa kompromi. Persoalan yang memantik konflik, yakni kasus Komjen Budi Gunawan, sudah harus segera diputuskan. Karena itu, menurut sumber BeritaPrima, kedua kubu akhirnya memutuskan untuk berdamai untuk mencapai win-win solution.
Pertemuan Jokwi dengan politisi PDIP Aria Bima pada Rabu malam (11/2/2015) dan dengan Ketua DPP PDIP Puan Maharani pada Kamis (12/2/2015), kabarnya dilakukan dalam rangka mencari solusi yang saling menguntungkan. Aria Bima dan Puan ditunjuk menjadi juru lobi dari PDI Perjuangan, sementara dari Istana Presiden Jokowi didampingi Menteri Sekretaris Negara Pratikno.
Namun menurut Sekretaris Kabinet Andi Widjajanto kedatangan Aria Bima dan Puan ke Istana tidak terkait polemik KPK dengan Polri. Puan dan Jokowi membahas soal Kementerian Koordinator PMK yang mendapat tambahan anggaran untuk program revolusi mental.
“Bertemu Presiden, soal Revolusi Mental, ada penganggaran baru yang nampaknya sudah disetujui oleh DPR,” kata Andi di Kompleks Istana Kepresidenan, Jl Veteran, Jakarta Pusat, Kamis (12/2/2015).
Lalu apakah ada hubungan antara pertemuan politisi PDIP Aria Bima tadi malam dengan Puan Maharani siang ini? “Mas Aria Bima ngomong Sri Wedari Solo. Mbak Puan ngomongin revolusi mental,” jawab Andi.
Boleh saja Andi membantah, karena tugasnya memang untuk ‘mengamankan’ informasi rahasia menyangkut Istana. Yang jelas, pada hari yang sama, kubu ‘Trio Singa’, yakni Luhut Panjaitan juga menggelar pertemuan dengan Prabowo Subianto. Prabowo menemui Luhut di Istana secara sembunyi-sembunyi pada Kamis sore.
Luhut sendiri ketika dikonfrmasi soal pertemuan tersebut juga mengakui. Namun, dia menolak menyebutkan materi pembasahan dalam pertemuan itu.
Menurut sumber BeritaPrima, pertemuan empat mata Prabowo-Luhut merupakan tindak lanjut dari pertemuan Prabowo dengan Jokowi beberapa waktu lalu. Tentu saja sangat erat kaitannya dengan suhu politik terkini, khususnya menyangkut kasus Komjen Budi Gunawan dimana Jokowi menghadapi tekanan sangat kuat dari kubu PDIP dan KIH.
“Bagaimanapun Luhut kan butuh cantolan di saat situasi memanas seperti saat ini. Apalagi dia sebenarnya juga orang Golkar, meskipun dari kubu Agung Laksono yang hampir pasti kalah. Luhut dengan Prabowo juga sesama militer meskipun sempat berseberangan. Politik kan tidak mengenal kawan atau lawan. jadi ketika kepentingannya saat ini mengharuskan untuk merangkul Prabowo ya pasti dilakukan,” tegas sumber tadi kepada BeritaPrima, Jumat (13/2/2015).
Sayangnya sampai saat ini belum jelas apa hasil manuver kedua kubu. Menurut sumber tadi, hasilnya bisa dilihat dari sikap Jokowi saat mengumumkan keputusannya soal Komjen Budi Gunawan yang diperkirakan pada hari Sabtu atau Minggu lusa. “Siapa yang berhasil membobol ‘ring satu’ Jokowi akan ketahuan nanti, kita tunggu saja,” pungkasnya.
Febrizky Akbar

