Sudah 2.600 Tahun Terpendam, Otak Manusia Ini Tetap Awet

Otak manusia yang telah terpendam sekitar 2.600 tahun tetapi terlihat masih awet.
BeritaPrima - Menggali tanah liat di Heslington, York, arkeolog dari York Archaeological Trust menemukan peninggalan sangat berharga dari masa Iron Age, otak manusia yang masih keadaan awet.
Otak yang telah terpendam sekitar 2.600 tahun tersebut sebenarnya ditemukan pada tahun 2009 bersama tengkorak yang membungkusnya. Baru-baru ini, arkeolog melakukan analisis karbon pada tengkorak dan berhasil mengungkap identitas pemilik otak itu.
Rachel Cubitt, salah satu arkeolog yang terlibat penemuan mengungkapkan bahwa pada tahun 2009, dia sedang menggali tanah liat dan tiba-tiba menemukan tengkorak dalam posisi telungkup.
“Saya melihat ke dalam lubang tengkorak dan saya terkejut menyaksikan material lunak berwarna kuning. Itu tak seperti yang saya pernah lihat sebelumnya,” katanya seperti dikutip Daily Mail, Kamis (5/3/2015).
Penelitian oleh tim arkeolog University of Bradford kemudian mengonfirmasi bahwa material itu memang otak. Ahli dari rumah sakit Mortuary di York kemudian berhasil mengeluarkan otak dari tengkorak dan menyimpannya.
Berdasarkan hasil analisis karbon yang dilakukan baru-baru ini, terungkap bahwa manusia yang memiliki otak itu hidup pada abad ke 6 Sebelum Masehi. Dia mungkin mati pada usia 26 - 45 tahun.
Analisis pada dua ruas tulang belakang yang terikut dalam tengkorak mengungkap, manusia itu mendapat pukulan hebat pada leher belakangnya dan memiliki luka-luka akibat tusukan benda tajam sebelum mati. Namun, belum dipastikan apa yang menyebabkan kematiannya.
Para ahli pernah menduga manusia pemilik otak itu digantung. Kepalanya menjadi sebuah persembahan. Hal itu memang praktik umum pada masa Iron Age tetapi belakangan para ahli meragukan asumsi itu.
Sonia O Connor, arkeolog dari University of Bradford, mengatakan bahwa manusia pemilik otak itu kemuungkinan besar langsung dikubur segera setelah mati sehingga otaknya bisa terawetkan dengan baik.
Kondisi tanah liat saat terkubur diduga kedap oksigen sehingga menghambat proses pembusukan. Connor juga mengatakan bahwa otak memang mungkin terawetkan selama ribuan tahun karena komponen lemak dan proteinnya.
(aud)

