Galeri Nasional Selenggarakan Pameran Pangeran Diponegoro
BeritaPrima, Jakarta – Galeri Nasional Indonesia menyelenggarakan pameran Pangeran Diponegoro. Tujuan pameran ini untuk mengenang sosok Pangeran Diponegoro yang menjadi simbol perjuangan bangsa untuk memerdekakan diri dari Kolonialisme Belanda.
Penyelenggaraan pameran Pangeran Diponegoro berlangsung di Galeri Nasional mulai 6 Februari hingga 8 Maret 2015. Latar belakang penyelenggaraan pameran ini karena erjalanan hidup sosok anak sulung dari raja Mataram, Hamengkubowono III ini menginspirasi pelaku seni.
Pameran seni ini sekaligus menjadi ajang kembalinya tongkat asli sang pangeran yang selama ini tersimpan di Belanda. Tongkat tersebut diterima oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI Anies Baswedan dalam peresmian tadi malam (5/2/2015). “Sudah 183 tahun pusaka ini dibawa ke Belanda, kembali lagi ke Indonesia. Kejadian ini mungkin seperti acara biasa saja, tapi puluhan tahun yang akan datang akan menjadi sebuah sejarah yang luar biasa, Indonesia harus lebih bangga dan lebih baik lagi,” ujar Anies.
Tongkat pusaka milik Pangeran Diponegoro beserta benda-benda lain seperti pelana kuda dan tombak diambil oleh Belanda pada 1832. Benda-benda itu ditahan pihak Belanda hingga Diponegoro wafat pada 8 januari 1855 di Makassar. Bahkan sampai Indonesia merdeka, benda-benda tersebut tak kunjung dikembalikan.
Dalam galeri yang berlokasi di Jl. Medan Merdeka Timur 14 itu, juga memamerkan lukisan karya Raden Saleh yang terkenal, Penangkapan Pangeran Diponegoro, yang dibuat pada 1856-1857. Lukisan ini dikembalikan oleh Ratu Juliana kepada pemerintah Republik Indonesia pada 1978.
Lukisan tersebut awalnya merupakan hadiah kepada Raja Willem III yang mengandung sindiran tersembunyi. Dalam lukisan Raden Saleh mengkritik tampak menyindir lukisan dengan tema yang sama yang dibuat oleh pelukis asal Belanda, Nicolaas Pieneman.
Dalam galeri yang dibuka pada pukul 10.00 WIB hingga 19.00 WIB setiap harinya tersebut pengunjung dapat menikmati berbagai karya seni yang terinspirasi dari lukisan Raden Saleh ataupun Pangeran Diponegoro.
Pameran dibagi tiga bagian. Bagian pertama, ”Diponegoro di Mulut Sejarah Seni Indonesia”. Adapun bagian kedua, ”Diponegoro, Raden Saleh dan Sejarah di Mata seniman Indonesia”, yang menampilkan karya para seniman yang menafsirkan tokoh Diponegoro antara lain Srihadi Soedarsono, Heri Dono, Nasirun, dan Entang Wiharso. Bagian ketiga, ”Sisi Lain Diponegoro”.
Pameran “Aku Diponegoro: Sang Pangeran Dalam Ingatan Bangsa” ini akan dibuka secara gratis untuk umum. Namun, beberapa kegiatan memerlukan reservasi terlebih dahulu kepada pihak penyelenggara. “Pameran ini adalah pameran lukisan, tetapi hakikatnya adalah sebagai identitas bangsa Indonesia.” ujar Peter Carey, ahli sejarah Indonesia asal Inggris.
(Dimas Wahyu)

