Dilaporkan, 25 Ribu Pekerja Thailand di Israel Teraniaya
BeritaPrima, Tel Aviv - Human Right Watch (HRW) mengatakan 25 ribu pekerja Thailand di industri pertanian Israel teraniaya; menerima upah jauh di bawah standar minimum, bekerja 17 jam tanpa hari libur, dan hidup dalam kondisi mengenaskan.
“Mereka juga dipaksa bekerja dalam kondisi berbahaya,” ujar Phil Robertson wakil direktur HRW untuk Asia, kepada kantor berita Anadolu.
“Petani Israel menggunakan pestisida, tapi tidak melengkapi pekerjanya dengan pelindung,” lanjut Robertson.
Dalam laporan setebal 48 halaman berjudul: A Raw Deal: Abuses of Thai Workers in Agricultural Sector, HRW mengatakan hampir seluruh pekerja Thailand tinggal di rumah-rumah kumuh terbuat dari kardus. Mereka juga kesulitan pindah dari satu ke lain majikan.
Laporan ini dibuat berdasarkan wawancara dengan 173 pekerja Thailand di 10 kelompok tani di Israel.
“Seluruh pekerja mengatakan mereka dibayar kurang dari dari umpah minimum yang ditetapkan pemerintah Israel,” ujar Robertson. “Mereka harus bangun pukul 4.00, dan bekerja sampai pukul 19.00.”
Dari sepuluh kelompk tani Israel yang mempekerjakan buruh tani Thailand, hanya satu yang relatif menyediakan fasilitas hidup memadai.
Kondisi paling menyedihkan terlihat di sektor peternakan. Di sini, pekerja tinggal di rumah-rumah kumuh tak layak huni, dengan ketiadaan semua fasilitas.
Haaretz sempat mengangkat masalah ini tapi tidak ada perubahan. Menurut surat kabar Israel itu 122 pekerka industri pertanian asal Thailand tewas antara 2008 sampai 2013.
Dari jumlah kematian itu, 43 mengalami sindrom kematian mendadak di malam hari. Beberapa pekerja mengatakan semua pekerja tidak ubahnya ‘daging mati’ sepulang dari tempat kerja.
Dihubungi warawan, Rabu (21/1), Kementerian Luar Negeri Thailand mengatakan tidak menyadari situasi itu.
Sarah Leah Whitson, direktur HRW untuk Timur Tengah dan Afrika Utara, mengatakan Israel melakukan terlalu sedikit untuk menegakan hak-hak pekerja, dan melindungi buruh dari eksploitasi. (aud)

