BeritaPrima.com, New York – Duta Besar Kepulauan Fiji untuk PBB, Peter Thomson, memenangi voting untuk menjadi Presiden Majelis Umum PBB. Posisi tersebut sebelumnya menjadi fokus utama dari skandal korupsi di Amerika Serikat (AS).
Thomson unggul tipis atas rivalnya Duta Besar Siprus, Andreas Mavroyiannis, dengan perolehan 94 berbanding 90 suara. Presiden Majelis Umum PBB adalah sebuah posisi seremonial belaka meski memiliki profil tinggi dan jabatan prosedural penting. Biasanya, kandidat menang secara aklamasi.
Usai terpilih, Thomson berjanji untuk menggiatkan transparansi di Kantor Kepresidenan Majelis Umum PBB. Sebab, dua pendahulunya sejak 2013-2014 dituduh oleh otoritas AS menerima suap senilai US1,3 juta (setara Rp17,3 miliar) dari pengusaha-pengusaha China.
Thomson juga akan mengawal proses pencarian Sekretaris Jenderal (Sekjen) PBB baru pengganti Ban Ki-moon karena pria asal Korea Selatan itu akan mengakhiri masa jabatan selama dua periode pada 2016. Presiden Majelis Umum PBB, Mogens Lykketoft, telah berusaha membuat pemilihan nantinya berlangsung transparan dengan melakukan uji kelayakan kepada para kandidat.
Seorang kandidat Sekjen nantinya akan dinominasikan oleh 15 anggota Dewan Keamanan (DK) dan dikonfirmasi oleh Majelis Umum. Biasanya, prosedur ini berlangsung tertutup sehingga negara-negara di luar anggota DK PBB tidak punya informasi cukup mengenai para kandidat.
“Saya akan mewarisi kerja bagusnya. Kita menderita setelah apa yang terjadi dengan presiden terdahulu. Hal itu jelas melukai PBB,” tutur Thomson, merujuk pada Presiden John Ashe, seperti dimuat Reuters, Selasa (14/6/2016).
Ashe, mantan Duta Besar Antigua dan Berbuda untuk PBB, adalah satu dari tujuh individu yang dijatuhi dakwaan pada Oktober 2015 atas keterlibatan dalam skandal penyuapan. Ia kini berusaha untuk membela diri lewat pledoi yang telah dimasukkan ke pengadilan pada Mei lalu. (aud)
BeritaPrima.com Bicara Fakta