Muhadjir mengatakan, program jam belajar sehari penuh ini akan dikombinasikan dengan kegiatan-kegiatan di luar kelas. Tujuannya agar para siswa tidak terbebani secara psikologis dengan mengikuti program belajar yang hanya di ruang kelas.
“Nanti kita ubah jadi betul-betul sehari penuh ada proses pembelajaran baik di kelas maupun di luar kelas. Jadi tidak sepenuhnya ada di dalam kelas. Karena secara psikologis kita tahu psikologis daya tahan anak tahannya hanya berapa jam tidak mungkin. Tapi di luar nanti mereka bisa bergembira belajar berbagai macam hal di situ kan. (Bagi) yang mau meningkatkan mengajinya ya panggil aja ustaz, kan tidak usah kita kursus ke luar. yang (belajar) bahasa Inggris juga begitu, kita panggil mentor bahasa Inggris jadi suasana akan lebih menggembirakan lah. Kita ingin menciptakan sekolah yang menggembirakan,” tutur Muhadjir.
Menurut Muhadjir, program sekolah sehari penuh dimaksudkan untuk menguatkan program nawacita di bidang pendidikan. Para guru nantinya mengisi jam belajar dengan memberikan materi mengenai pendidikan karakter kebangsaan.
Pengamat Pendidikan Mohammad Abduhzen menilai ide Full Day School ini memerlukan pertimbangan dan kajian yang matang.
“Ini baru gagasan dan wacana. Namun ide full day itu memerlukan kajian dan persiapan matang. Kalau sekolahnya tidak menyenangkan membuat anak bosan dan kurang berkembang,” ujarnya.
Abduh menilai memang sebaiknya gagasan ini diuji-cobakan terlebih dahulu ke publik untuk melihat bagaimana respons masyarakat terhadap wacana tersebut. “Untuk memastikannya memang sebaiknya diujicobakan dulu,” kata dia.
BeritaPrima.com Bicara Fakta