Isu SARA?
SARA itu pasti. Setiap orang punya tendensi untuk memposisikan diri pada posisi kelompok terdekatnya. Artinya seorang etnis Bugis alaminya ingin melihat etnis Bugis berhasil. Atau dalam konteks pemilihan ingin melihat yang terpilih dari kalangan etnisnya. Itu sunnatullah, hukum alam yang tidak dapat dipungkiri.
Kelompok agama juga demikian. Di mana saja setiap orang ingin melihat kelompoknya berhasil. Betapa banyak umat Islam ingin melihat suatu hari seorang Muslim menjadi walikota New York misalnya. Salahkah ini? Tidak sama sekali karena itulah yang disebut “solidaritas sosial” manusia.
Yang salah adalah keinginan kelompok kita menang itu menjadi dasar untuk membenci orang lain. Dalam Islam keinginan untuk kelompok kita berhasil itu tidak dilakukan dengan cara negatif. Misalnya dengan kebencian, menjelekkan, apalagi dengan kekerasan. Sebaliknya dilakukan dengan cara positif. Yaitu melalui “kompetisi sehat” untuk menampilkan calon dan program terbaiknya.
Oleh karenanya pernyataan Ahok itu di satu sisi salah. Tapi di sisi lain justeru memberikan ruang kepada umat ini untuk melakukan introspeksi. Kembali mempertanyakan di mana solidaritas sosial yang harusnya terbangun di atas asas “innamal mu’minuuna ikhwah”?
BeritaPrima.com Bicara Fakta