BeritaPrima.com, Jakarta - Tiga oknum pegawai negeri sipil (PNS) dari Dinas Pariwisata yang bertugas di Kantor Wali Kota Jakarta Pusat diduga melakukan pemerkosaan terhadap siswi magang berinisial PAR (17). Aksi tersebut dilakukan di lantai enam pada jam istirahat. Saat itu, kantor Wali Kota Jakpus tersebut dalam keadaan sepi.
Sementara kepolisian, berdasarkan hasil pemeriksaan laboratorium tidak menemukan sel atau cairan sperma yang tertinggal di rok seragam sekolah korban. Bahkan, adanya tanda-tanda kekerasan pada alat kelaminnya juga tidak didapat sama sekali.
Menanggapi hal tersebut, Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), Rita Pranawati meminta agar kepolisian berhati-hati dalam menangani kasus ini. “Perlu dilihat, kalau pelecehan seksual, polisi harus hati-hati. Karena jika non penetrasi tidak bisa divisum,” ujar Rita, Rabu (10/8/2016).
Rita mengatakan bahwa siswi magang rentan terhadap aksi pelecehan seksual. Sebab itu, ia meminta agar pemerintah bisa meminimalkan kasus serupa. Cara sederhana yang bisa ditempuh misalnya, tidak membiarkan siswi magang sendirian tanpa adanya asistensi.
“Rentan, seingat saya di Bogor ada kejadian juga 2015, walaupun di lembaga pemerintahan ada juga. Tetep harus diminimalisir, misal tidak sendirian siswi magang, ada asistensi lebih dari satu. Kalau laki-laki hanya dengan satu perempuan itu kan rentan. Harus multi patner,” imbuhnya.
Adapun sikap KPAI, lanjut Rita, bakal berupaya untuk menemui korban. Hal tersebut untuk memberi dukungan moril agar korban berani melaporkan kasus tersebut.
“Kita harus ketemu korban. Intinya kita support korban untuk berani lapor ke KPAI. Kalau bener terjadi (pemerkosaan) harus ada evaluasi,” tandasnya.
Yusof sebenarnya memiliki ketertarikan yang tinggi pada ilmu hukum. Akan tetapi, ayahnya tidak mampu untuk mengirim dia ke Inggris untuk melanjutkan studinya. Yusof kemudian bergabung dengan Akademi Polisi di Kuala Lumpur. Namun karena beberapa perbedaan pendapat, ia akhirnya meninggalkan akademi tersebut dan kembali ke Singapura.
Menilik kariernya, Yusof sempat terjun sebagai seorang wartawan. Ia bergabung dalam sebuah koran Warta Malaya sebagai seorang juru tulis. Beberapa lama kemudian, posisinya kemudian meningkat menjadi seorang asisten manajer yang bertugas mengontrol keuangan perusahaan. Warta Malaya merupakan perwakilan dari suara Arab di Singapura dan dipengaruhi oleh perkembangan di Timur Tengah.
Yusof bin Ishak tidak hanya dikenal hebat dalam bidang akademis, tapi juga merupakan seorang atlet berprestasi. Ia sempat mewakili Indonesia dalam berbagai perlombaan termasuk hoki, kriket, renang, polo air, bola basket, tinju dan angkat besi. Sebagai petinju, ia pernah memenangkan piala Aw Boon Par pada 1932. Dalam bidang angkat besi, ia menjadi juara kelas ringan tingkat nasional pada 1933.
Untuk menghargai jasa-jasa Yousuf, Singapura pun mengabadikan namanya dalam tiga tempat. Pertama, sebuah masjid baru di Woodlands akan dinamai Masjid Yusof Ishak. Kedua, Institut Kajian Asia Tenggara di National University of Singapore (NUS) saat ini dikenal dengan nama Iseas (the Yusuf Ishak Institute).
Ketiga, NUS mencanangkan program pendanaan dan penganugerahan gelar profesor dalam bidang ilmu sosial dengan nama Yusof Ishak Professorship. Peneliti yang berhak mendapatkan faedah dari program ini adalah mereka yang seperti, Ishak, memiliki minat penelitian dalam kajian multi-etnis dan multi-kulturalisme.
Sebagai presiden pertama, wajahnya juga tak asing lagi. Muncul di uang kertas Dolar Singapura dalam berbagai nilai. Pernah dalam pecahan 2, 5, 10, 20, 50, 1.000 dan 10.000 dolar Singapura. (aud)
BeritaPrima.com Bicara Fakta