Pengobatan Epilepsi Bisa dengan Pembedahan Otak

epilepsii

Dr. Irawati Hawari, SpS saat jumpa pers di RS Bunda Menteng, Jakarta, Jumat (26/6/2015).

BeritaPrima, Jakarta - Dari 237 juta penduduk Indonesia ada sekitar 1,1-8,8 juta yang menjadi penyandang epilepsi. Manifestasi serangan dapat berbeda-beda tergantung pada fungsi otak mana yang terganggu.

“Epilepsi itu penyakit neurologi menahun yang dapat mengenai siapa saja di dunia tanpa batasan usia. Tidak hanya anak-anak yang kena epilepsi, semua orang bisa kena,” kata Dr. Irawati Hawari, SpS saat jumpa pers di RS Bunda Menteng, Jakarta, Jumat (26/6/2015).

Masyarakat umumnya hanya mengetahui serangan epilepsi berbentuk kejang kelojotan disertai mulut berbusa. Padahal ada serangan lain tergantung jenis epilepsinya.

“Epilepsi ada umum dan parsial. Epilepsi umum tidak sadar ada tanda-tanda sebelumnya. Biasanya pada anak-anak di sekolah, anak sering melamun dan kosong dalam beberapa detik,” lanjut Dr. Irawati.

Sedangkan pada epilepsi parsial, penderita parsial cenderung sadar pada awalnya kemudian akhirnya menjadi kejang-kejang.

Pengobatan epilepsi bisa dilakukan dengan 2 cara, yaitu dengan minum obat-obatan anti epilepsi (Anti Epilepsi Drugs) dan bedah epilepsi pada otak yang bertujuan mengontrol bangkitnya kejang untuk meningkatkan kualitas hidup pasien.

Pembedahan epilepsi tersebut menjadi pilihan pasien jika kejangnya tak dapat dikendalikan oleh obat-obatan.

“Pasien setelah operasi masih memerlukan obat, tetapi masih bisa dikontrol. Pada beberapa kasus obat bisa dikurangi bahkan distop,” ungkap Dr.dr. Wawan Mulyawan, SpBS selaku konsultan bedah syaraf RS Bunda Menteng.

Dalam hal ini, pasien yang menderita epilepsi dengan penyakit lain seperti kanker atau jantung tidak dianjurkan melakukan bedah epilepsi.

(Arie Septiani)

(Visited 35 times, 1 visits today)
Kategori: Kesehatan
Tags: #Epilepsi

Write a Comment

Your e-mail address will not be published.
Required fields are marked*