Kronologi Penganiayaan Taruna STIP Marunda

Kasus penganiayaan taruna kembali terjadi di STIP Marunda.
BeritaPrima, Jakarta - Kepala Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran (STIP) Marunda, Jakarta Utara, Kapten Arifin Sunardjo memaparkan kronologi kejadian penganiayaan terhadap Daniel Roberto Tampubolon. Arifin mengatakan bahwa penganiayaan tersebut bermula dari cekcok mulut antara korban dan pelaku.
|
Pilihan Redaksi
|
“Pertama, mereka satu daerah, orang Batak, korban namanya Tampubolon, yang mukul Pakpahan, Siahaan, Manurung, sama Siregar. Adu mulut, ribut-ribut terus,” ungkap Arifin, Jumat (10/4/2015).
Awalnya, korban diketahui bergurau dengan salah satu seniornya, Magister Manurung, Senin (6/4/2015) lalu. Namun, gurauan tersebut berujung pada penyiksaan terhadap korban. Manurung yang tidak bisa menerima gurauan korban lantas membawanya ke kantin sekolah.
“Situasinya memang pas lagi istirahat makan siang. Nah, waktu di kantin, korban disuruh makan sayur pakai sambal saus. Bukan cabe rawit. Yang nyuruh Kaiser sama Andri,” terangnya.
Tak hanya itu, korban pun dibawa ke lorong dan kembali dianiaya. Di sana, empat pelaku lainnya bergabung, Filipus Siahaan, Iwan Saputra Siregar, Romadoni, dan Heru Junianta Pakpahan. Kemudian, korban disuruh push-up, sit-up, hingga dipukul pakai gagang martil dan ditampar. “Kejadiannya dua hari, Senin dan Selasa. Ada bukti juga dari rekaman CCTV,” lanjutnya.
Orangtua Daniel, Rosannaria Simanuillang, telah melaporkan kasus ini ke Polda Metro Jaya. Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Komisaris Besar Martinus Sitompul mengatakan, laporan dibuat dengan nomor LP/066/K/IV/2015. Laporan dibuat pada Rabu (8/4/2015) pukul 23.00 WIB.
“Kejadiannya pada 6 April 2015 pukul 7.30 WIB lalu. Korban mengaku dianiaya oleh terlapor,” kata Martinus, Kamis, di Mapolda Metro Jaya.
Martinus menjelaskan, Daniel mengaku dianiaya dengan tangan kosong dan palu. Ia juga dipaksa memakan cabai rawit. Atas penganiayaan itu, Daniel menderita sesak nafas, mual, sakit ulu hati, dan pusing. (feb)

