Sistem ERP Dinilai Mampu Gantikan 3 in 1
BeritaPrima.com, Jakarta - Sistem electronic road pricing (ERP) bisa menjadi solusi teknologi informasi komunikasi (TIK) utama yang dapat menggantikan 3 in 1. Selain bisa mengurai kemacetan, sistem jalan berbayar elektronik ini juga diyakini mampu mengubah perilaku masyarakat sehingga akan lebih memilih moda transportasi publik.
Demikian dikatakan praktisi Intelligent Transportation System, Ahmad Nugraha Rahmat, dalam keterangan tertulisnya, Kamis (7/4/2016).
“Kendaraan pribadi saat ini masih menjadi pilihan utama di tengah masih kurang optimalnya pelayanan transportasi publik. Hal inilah yang menyebabkan kemacetan di jalan protokol Jakarta makin padat tiap harinya,” ujarnya.
Menurut Nugraha, kemacetan yang semakin parah terjadi di Jakarta disebabkan kurangnya kesadaran dan kedisiplinan masyarakat. Makanya, tak heran bila sistem penerapan 3 in 1 tak berjalan optimal dan celakanya menimbulkan persoalan sosial, seperti bermunculan joki 3 in 1 dan pungutan liar.
Terlebih bila kemacetan terurai 25 persen, sambungnya, hasil riset menunjukan bahwa akan meningkatkan mobilitas hingga 100 persen.
“ERP memungkinkan kontrol penggunaan kapasitas jalan sehingga tetap optimal. Tarif ERP dapat disesuaikan kondisi rata-rata kecepatan dan kepadatan jalan,” katanya.
Tak hanya itu, ujar kandidat Ketua Forum Alumni Telkom University ini, ERP juga berdampak baik pada penurunan tingkat emisi dan konsumsi bahan bakar. Kemudian, bisa juga menjadi alternatif modern dalam sistem pembayaran jalan tol menuju Multi Lane Free Flow Electronic Tolling System.
Sebuah sistem yang mempercepat transaksi dan tentunya berdampak pada terurainya kemacetan di pintu tol akibat kemudahan cek saldo, proses top-up multibank, integrasi dengan aplikasi seluler, serta harga perangkat yang jauh lebih terjangkau.
“Kota-kota yang telah menerapkan ERP telah membuktikan dan merasakan manfaatnya melalui program Ear Marking atau penggunaan hasil retribusi ERP. Hasil retribusi dikembalikan untuk pengembangan sarana dan prasarana transportasi seperti subsidi pembangunan transportasi publik, perbaikan trotoar, penghijauan sekitar jalan protokol, penanggulangan emisi, penambahan jalur sepeda, dan pembelian bis-bis baru,” jelasnya.
Country Sales Manager Q-Free Indonesia itu menambahkan, penerapan sistem tersebut sudah diterapkan di sejumlah negara maju dan terbukti bisa menekan tingkat kecelakaan dan kejahatan di jalan. Di era economic sharing dan disruptive model di bidang transportasi saat ini juga menjadi momentum yang tepat untuk perbaikan karena masyarakat semakin cerdas memilih layanan mana yang terbaik.
“Hal ini juga mendorong para pengambil kebijakan meninjau kembali masterplan dan regulasi agar lebih adaptif terhadap perubahan jaman tanpa melupakan kepentingan masyarakat,” pungkasnya. (feb)








