Meski begitu, penyidik lalu bergegas ke rumah tersangka. Saat itu, rupanya Hidayat dan Rita baru tiba di rumah usai melaksanakan salat tarawih di masjid perumahan. Setibanya di sana, penyidik mengungkapkam maksud kedatangannya untuk menangkap mereka sambil menunjukkan surat penangkapan.
“Maksud bapak apa? Bapak jangan main-main dengan saya, jangan-jangan bapak yang menaruh barang di gudang saya,” kata Rita kepada polisi.
Mendengar sanggahan tersangka, penyidik dengan santai menjawabnya. “Kami profesional bu. Kami masuk dalam keadaan tangan kosong dan hanya membawa surat penangkapan,” ujar salah seorang penyidik.
Tanpa ada perdebatan yang sengit, penyidik satu per satu masuk ke dalam rumah tersebut. Rita tak berani mengelak lagi, ketika penyidik menemukan ribuan botol vaksin yang di simpan di ruang mushola dan kamar tidurnya.
“Nih bu, buktinya. Ibu tidak bisa mengelak lagi kan,” kata penyidik itu.
Merasa belum puas, penyidik tersebut kemudian menampilkan salah satu tersangka yang tak lain adalah kurirnya. “Nih kurir ibu kan, mau mengelak gimana lagi?,” katanya.
Melihat Rita dan Hidayat bergeming, penyidik kemudian menggelandang mereka ke dalam mobil berwarna hitam. Sementara penyidik lainnya, sibuk mengambil ribuan botol itu sebagai barang bukti ke dalam mobilnya.
“Total ada 36 kardus. Satu kardus aja isinya bisa puluhan. Kan botol vaksinnya kecil-kecil dan ada alat press untuk pengemasannya,” jelas Eko.
BeritaPrima.com Bicara Fakta