10 Bekas Pasukan Elite Perancis Gabung ISIS
BeritaPrima, Paris - Di antara ratusan warga Perancis yang bergabung dengan Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) terdapat sedikitnya 10 orang bekas personel militer negeri itu. Demikian dikatakan sejumlah sumber di Kementerian Pertahanan Perancis, Rabu (21/1/2015).
“Kami perkirakan sekitar 12 orang mantan tentara kita telah bergabung dengan sejumlah kelompok militan,” ujar sumber itu seperti dikutip kantor berita AFP.
“Yang lebih kami prihatinkan adalah fenomena radikalisasi sudah masuk ke dalam angkatan bersenjata,” tambah sumber itu.
Sementara itu, Menteri Pertahanan Perancis Jean-Yves Le Drian menolak untuk mengomentari kabar tersebut.
“Kasus mantan tentara terpengaruh ideologi ekstrem sangat jarang terjadi,” kata Le Drian dalam sebuah jumpa pers tentang upaya mencegah terisme pasca-serangan Paris.
Kementerian Pertahanan memastikan unit intelijen militer yang saat ini diperkuat 1.000 personel, akan mendapat tambahan 65 orang personel untuk memeriksa para rekrutan baru militer.
Sementara itu, harian The Telegraph mengabarkan hal yang paling mengkhawatirkan adalah eks militer yang kini bergabung dengan ISIS adalah para mantan anggota pasukan elite Perancis, Resimen Infantri Parasut Marinir.
Resimen ini dianggap sebagai salah satu kesatuan pasukan khusus paling berpengalaman di Eropa. Identitas para bekas anggota militer Perancis yang bergabung dengan ISIS tidak disebutkan. Namun, mereka diyakini memiliki akar Afrika Utara.
Harian L’Opinion mengatakan para anggota resimen elit itu dilatih kemampuan bertempur, menembak dan teknik bertahan hidup. Mereka terikat kewajiban bergabung dengan resimen elite itu selama lima tahun sebelum diizinkan mundur dari dinas militer.
Bekas anggota militer lain yang membelot dikabarkan sudah menjadi “emir” untuk para anggota ISIS asal Perancis di kota Deir Ezzor, Suriah. Radio France International (RFI) mengabarkan semua anggota kelompok ini sudah menerima pelatihan tempur terbaik.
Sedangkan beberapa bekas anggota militer Perancis lain, masih menurut RFI, diperkirakan adalah para ahli bahan peledak berusia pertehganan 20 tahun. (aud)

