Kepada Natalia, atasan Jessica di New South Wales Ambulans, Australia Kristie Louise Carter bercerita bahwa Jessica adalah orang yang profesional dalam hal pekerjaan, tapi Jessica sangat tertutup.
Dari keterangan Kristie kepada Natalia dan penyidik Polda Metro Jaya saat di Australia, hidup Jessica mulai kacau ketika hubungannya dan Patrick bermasalah pada Januari sampai September 2015.
Jaksa penuntut umum (JPU) Sandy Handika lalu mengonfirmasi ungkapan hati Jessica yang dikatakan kepada Kristie saat Jessica dirawat di RS Royal Prince Alfred. Jessica marah karena diperlakukan seperti pembunuh oleh pihak rumah sakit dan kepolisian setempat.
“Saat di rumah sakit, Jessica mengatakan pada dia (Kristie), ‘Para bangsat di rumah sakit ini tidak mengizinkanku pulang. Mereka memperlakukanku seolah-olah saya adalah pembunuh. Kalau saya akan membunuh orang, saya tahu pasti cara menggunakan pistol dan saya tahu dosis yang tepat,” ucap Sandy menirukan curahan hati Jessica sesuai pengakuan Kristie.
“Saat ditanya maksudnya apa (berkata seperti itu), dia (Jessica) tidak bisa menjelaskan lebih lanjut,” jawab Natalia.
Natalia menambahkan sejak keluar dari rumah sakit, hubungan Kristie dan Jessica mulai merenggang karena sikap Jessica berubah.

Dari data Australia Federal Police (AFP), diketahui Jessica masuk rumah sakit dua kali karena melakukan percobaan bunuh diri. Pertama pada akhir Januari 2015, Jessica berupaya melukai diri sendiri. Percobaan bunuh diri kedua dilakukan Jessica pada September 2015 dengan cara menyalakan alat panggang hingga seisi kamar apartemennya dipenuhi asap.
“Kalau kami lihat, mulai dari Januari 2015 tanggal 28 itu hanya ancaman akan bunuh diri dengan menelepon Patrick. Namun tanggal 29 sampai 30-nya dia melakukan upaya bunuh diri. Lalu dia sampai menabrak panti jompo tanggal 22 Agustus,” ujar Natalia.
BeritaPrima.com Bicara Fakta