Meski berhasil, aksi perang ini menimbulkan kemarahan dari kalangan pengacara. Edre Olalia, Sekjen Ikatan Nasional Pengacara Rakyat Filipina, mengatakan, pembunuhan harus dihentikan.
“Ancaman narkoba harus berhenti. Namun, eksekusi berulang atas dugaan pengguna atau pengedar narkoba juga harus dihentikan. Keduanya tidak kompatibel,” tulis mereka dalam sebuah pernyataan.
Sementara itu, Kepala Polisi Ronald dela Rosa di utara pulau utama Luzon, petugas pengawas obat dan narkotika, berhasil menyita pengiriman 180 kilogram sabu, dengan nilai sekitar US$19,23 juta. Obat tersebut diduga diselundupkan dari China dan Taiwan.
Pengiriman itu diturunkan di laut dan dibawa ke pantai oleh kapal nelayan kecil dan akhirnya dibawa ke wilayah pecinan di Manila.
Pada Minggu, 3 Juli 2016, para pemberontak Tentara Rakyat Baru yang dipimpin Maois mengeluarkan pernyataan yang mendukung perang habis-habisan Duterte terhadap obat. Kelompok ini mengatakan, kemungkinan melakukan operasi sendiri terhadap tentara, polisi, dan pejabat setempat. (feb)
BeritaPrima.com Bicara Fakta