Bom Bangkok Dan Teror Pariwisata Gajah Putih

bombangkok2BeritaPrima - Polisi Bangkok kini tengah memburu seorang pria yang diduga menjadi tersangka pengebom kuil Hindu Erawan pada Senin malam lalu. Foto pelaku diperoleh polisi dari potongan rekaman kamera pengawas (CCTV) yang menangkap gelagat orang-orang di sekitar kuil yang dibangun pada 1956 itu.

BBC edisi Selasa, 18 Agustus 2015, melansir, terduga pelaku terekam mengenakan kaus berwarna kuning. Dia terlihat membawa tas ransel. Tak berapa lama kemudian, tas ransel yang dia jinjing diletakkan di depan pagar Kuil Erawan tepat ketika pengunjung tengah penuh. Kantor berita Reuters melansir, salah satu benda yang terdapat di dalam tas ransel adalah telepon seluler.

Sekitar pukul 19.00 waktu setempat, sebuah ledakan meluluhlantakan area di depan Kuil Erawan. Satu sepeda motor dan taksi yang berada tepat di depan kuil langsung hancur dan terbakar. Warga yang berada di sekitar perempatan Jalan Ratchaprasong panik dan berusaha menyelamatkan diri.

Puluhan orang dilaporkan tewas dan lebih dari 120 orang terluka. Sebagian dari korban tewas merupakan warga asing. Mereka berasal dari Tiongkok, Hong Kong, Inggris, Malaysia, Singapura, dan Indonesia.

Menurut koresponden BBC di Bangkok, Jonathan Head, titik yang diduduki tersangka merupakan lokasi di mana bom meledak dalam beberapa menit kemudian.

“Ini merupakan tersangka. Kami tengah mencari pria ini,” ujar Perdana Menteri Prayuth Chan-ocha kepada media.

Juru bicara pemerintah Mayor Jenderal Weerachon Sukhontapatipak mengatakan, otoritas berwenang tinggal sedikit lagi berhasil mengidentifikasi tersangka. Kendati begitu, mereka juga tetap memburu petunjuk lain.

Pemerintah Thailand mengatakan, hingga saat ini belum bisa mengonfirmasi identitas tersangka yang terekam di dalam CCTV. Walaupun, stasiun berita Channel News Asia melansir, ciri khas pelaku memiliki karakteristik wajah menyerupai etnis tertentu.

Kendati begitu, Kepala Polisi Nasional Thailand, Somyot Pumpanmuang mengatakan tersangka bisa saja warga Thailand atau orang asing.

“Pria itu membawa sebuah ransel dan berjalan di lokasi ketika insiden terjadi. Tetapi, kami perlu untuk memeriksa potongan rekaman di CCTV sebelum dan sesudah kejadian. Tujuannya, untuk melihat jika ada kaitan,” kata Somyot.

Sebelumnya, polisi mengatakan, mereka tidak mencoret berbagai kemungkinan dan pelaku dari kelompok mana pun. Termasuk, elemen-elemen yang menentang pemerintahan berbasis militer dan kelompok pemberontak lainnya.

Namun, pejabat berwenang mengatakan serangan yang terjadi di depan Kuil Erawan tidak sesuai dengan tipikal metode yang digunakan kelompok pemberontak di selatan Thailand.

Skala kehancuran yang diakibatkan oleh bom itu cukup besar. Selain menghancurkan kaca dan jendela bangunan pusat perbelanjaan serta hotel di dekat kuil, ledakan bom itu mengakibatkan kawah selebar dua meter.

Tak heran jika skala ledakannya cukup besar. Somyot mengatakan di dalam bom yang diracik dalam bentuk pipa itu, diisi dengan bahan TNT seberat tiga kilogram.

“Dampaknya sangat kuat. Bom itu bisa menyedot kami ke bagian depan kemudian mendorong kami ke belakang,” ujar seorang saksi mata, Leify Porter seperti dikutip BBC.

Semua kemungkinan tetap terbuka lebar, lantaran hingga saat ini belum ada kelompok yang mengklaim bertanggung jawab atas serangan itu. Motif penyerangan pun belum jelas.

Menurut analisis pengajar di Pusat Studi Asia Tenggara, Universitas Kyoto, Pavin Chachavalpongpun, kecil kemungkinan aksi pengeboman pada Senin lalu dilatarbelakangi motif politik domestik.

“Kebudayaan warga Thailand adalah agama Buddha dan toleransi terhadap agama lain. Tempat yang religius seperti Kuil Erawan bukan target yang akan dipilih oleh kelompok pemberontak Thailand, sehingga, kemungkinan dalang di balik serangan ini, bukan warga Thailand,” papar Pavin.

Dia menjelaskan, kesimpulan tersebut diambil, bukan berarti Pavin ingin menyalahkan agama tertentu. Dia hanya ingin mengatakan, Kuil Erawan dalam pandangannya bukan tempat yang sesuai untuk memainkan sebuah lakon teror.

“Skala kerusakan yang diakibatkan untuk agenda politik, terlalu berlebihan dan terlalu besar. Jika seseorang menginginkan sebuah agenda domestik, maka aksi pembantaian seperti pada Senin lalu merupakan sesuatu yang tak perlu,” ujar Pavin.

Tetapi, hingga saat ini, dia tidak memiliki informasi yang cukup hingga titik ini untuk mendukung teori apa pun. “Sementara itu, jika pelaku merupakan jaringan teror internasional, maka biasanya mereka akan dengan cepat mengklaim sebagai pihak yang bertanggung jawab,” Pavin menjelaskan.

Yang terjadi, hingga lebih dari 24 jam berlalu, belum ada satu pun kelompok yang mengaku.

Belum lagi polisi tuntas mencari dalang di balik pengeboman di depan Kuil Erawan, Bangkok kembali diguncang oleh bom lainnya kemarin. Hanya saja, kali ini skalanya lebih kecil.

Kolonel Polisi Natakit Siriwongtawan mengatakan, seseorang telah melempar alat peledak dari atas jembatan ke Sungai Chao Phraya dan meledak. Beruntung, tidak ada korban jiwa dalam insiden tersebut.

“Jika bom tersebut jatuh di permukaan air, tentunya akan mengakibatkan korban jiwa,” kata Natakit.

Dua kali aksi pengeboman yang terjadi dalam waktu berdekatan, menunjukkan bobolnya sistem pengamanan di dalam negeri Thailand. Terlebih, Negeri Gajah Putih baru saja kembali ke kondisi kondusif, usai dilanda ketegangan politik tahun lalu.

Pada Mei 2014, Prayuth melakukan kudeta dari pemerintahan yang sah dan dipimpin oleh mantan PM Yingluck Shinawatra. Pavin pun berpendapat, kinerja intelijen pemerintah jelas gagal dalam mencegah serangan teror ini.

“Tingkat keamanan sangat lemah di Bangkok dan otoritas menerima begitu saja negara dengan mayoritas penduduk beragama Buddha, maka tidak mungkin ada aksi semacam itu,” papar Pavin.

Justru dengan berlalunya waktu, kata Pavin, membuktikan pemerintah berbasis militer sekadar menyalahkan kelompok lainnya. Hal tersebut terbukti ketika PM Prayuth Chan-ocha malah menyebut masih banyak elemen anti terhadap pemerintah yang ingin beraksi.

Sementara itu, di saat bersamaan, seperti dikutip harian The Guardian, dia mengakui rezim yang kini dipimpinnya mengalami kegagalan dalam mengamankan negara. Para Menteri dalam kabinet Prayuth pun mengaku tak tahu menahu adanya sebuah serangan dengan skala yang besar dan telah direncanakan sebelumnya.

Bahkan, para Menteri itu juga bingung siapa pihak yang diduga bertanggung jawab akan aksi itu.

“Ini merupakan insiden terburuk yang pernah terjadi di Thailand. Sebelumnya, memang ada aksi bom atau tindakan yang mengganggu, tetapi kali ini, mereka membidik nyawa orang-orang yang tak berdosa. Mereka ingin menghancurkan perekonomian dan pariwisata kita,” kata Prayuth.

Dia tidak menjelaskan lebih jauh siapa yang dimaksud “mereka”. Namun, usai ditemukan petunjuk dari rekaman kamera CCTV, maka dia memerintahkan untuk menemukan pria berkaus kuning itu.

“Kami harus menemukan mereka terlebih dulu,” Prayuth menambahkan.

Dia pun membuka kemungkinan, serangan tersebut bisa saja dilakukan oleh kaum teroris individu dan bertindak seorang diri.

PM Prayuth berulang kali mengatakan kepada media, pelaku berupaya untuk menghancurkan perekonomian dan industri pariwisata Thailand. Kesimpulan itu ditarik Prayuth dari lokasi pengeboman yang dipilih pelaku.

Kuil Erawan merupakan salah satu objek pariwisata terkenal di Bangkok. Kendati Erawan adalah kuil bagi umat Hindu, namun kuil tersebut juga kerap didatangi umat Buddha dan turis. Mereka ikut berdoa dan memohon berkah.

Maka, Prayuth khawatir aksi pengeboman kali ini kembali akan membuat pariwisata Negeri Gajah Putih terpuruk. Padahal, industri pariwisata menjadi salah satu sektor andalan di Thailand yang menunjukkan perkembangan tahun ini.

Menurut data dari laman International Business Times, industri pariwisata menyumbang 1/10 dari pendapat nasional Thailand. Insiden pengeboman tentu akan berpengaruh terhadap industri pariwisata Thailand dalam waktu singkat.

“Saya pikir kejadian kali ini akan berdampak lebih dalam terhadap pariwisata,” ujar Manajer Biro Perjalanan Easy Tours yang berbasis di Texas, Pierce Haney.

Haney menjelaskan, jika dalam beberapa peristiwa sebelumnya, aksi pengeboman hanya menimbulkan skala kecil, maka kali ini bom yang diracik memiliki daya ledak besar.

Industri pariwisata Thailand pernah mengalami penurunan sebesar 6 persen dalam beberapa bulan usai terjadi kudeta tahun lalu. Namun, perlahan-lahan dimulai pada Januari 2015, angka kunjungan turis mulai meningkat ke angka lebih dari 2,8 juta pelancong.

Haney pun tak menyangka jika Thailand akan kembali diguncang bom dengan skala yang lebih besar. “Peristiwa yang dipicu oleh aksi kudeta, secara umum hanya menimbulkan dampak jangka pendek,” kata Haney.

Dia menambahkan, sebagian besar kliennya tidak takut dan khawatir terhadap aksi kudeta yang melanda Thailand pada tahun lalu. Hal tersebut terbukti dari kembali penuhnya permintaan kunjungan ke Thailand dua bulan usai terjadi kudeta.

“Saya pikir keadaan di sini akan lebih stabil,” ujar Haney.

Sementara itu, Presiden Dewan Pariwisata Thailand, Ittirat Kinglake mengatakan, usai terjadi pengeboman, beberapa pelancong membatalkan kunjungan mereka ke Thailand.

“Memang ada beberapa dampak, tetapi sepertinya itu hanya jangka pendek,” kata Ittirat seperti dikutip harian Wall Street Journal (WSJ).

Dia menjelaskan, dalam keadaan normal, Thailand bisa menarik sebanyak 29 juta turis setiap tahun. Setelah kejadian pengeboman itu, tentu mereka harus mengevaluasi angka tersebut.

“Peristiwa ini tentu akan merusak apa yang telah disebabkan oleh pertumbuhan ekonomi negatif,” kata Ittirat.

Terlebih, sebagian besar turis yang berkunjung ke Thailand berasal dari Tiongkok. Sementara itu, dalam aksi pengeboman di depan Kuil Erawan, enam orang turis asal Tiongkok dilaporkan tewas. Dua orang di antaranya berasal dari Hong Kong.

Maka, beberapa pemerintah negara asing mulai memperbaiki imbauan perjalanan bagi warga mereka. Pemerintah Hong Kong dan Singapura telah merekomendasikan kepada warganya agar tidak perlu berkunjung ke Bangkok jika tidak ada keperluan mendesak.

Semula, pemerintah menargetkan tahun ini, bisa memperoleh pemasukan dari kunjungan turis asing sebesar US$61 miliar. Tetapi, akibat pengeboman tersebut, angka tersebut juga perlu untuk direvisi. (aud)

(Visited 75 times, 1 visits today)
Kategori: Dunia
Tags: #BomBangkok

Write a Comment

Your e-mail address will not be published.
Required fields are marked*