Dituding Dendam ke Budi Gunawan, Abraham Samad: Itu Fitnah!
BeritaPrima, Jakarta - Beredar kabar Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Abraham Samad melakukan sejumlah pertemuan dengan petinggi PDIP. Pertemuan itu dilakukan sebelum masa kampanye Pilpres 2014.
Kabar tersebut mengatakan, Samad melakukan pertemuan sebanyak enam kali. Tujuan pertemuan itu, dikabarkan karena Samad menginginkan sebagai calon Wakil Presiden (cawapres) pendamping Joko Widodo saat maju sebagai calon Presiden.
Namun, pada akhirnya Samad tidak berhasil menjadi calon Wakil Presiden mendampingi Joko Widodo. Melainkan yang menjadi wakil Jokowi adalah Jusuf Kalla.
Kabar itu juga menyebutkan, orang yang diduga kuat menggagalkan Samad maju sebagai cawapres Jokowi adalah Komjen Budi Gunawan. Sebab, Budi disebut memiliki loby yang cukup kuat menjadikan Jusuf Kalla sebagai Wapres Jokowi.
Sekretaris Jenderal (Sekjen) Plt PDIP Hasto Kristiyanto, di Jakarta, Kamis (15/1/2015), juga mendukung spekulasi liar tersebut. Menurut Hasto, kemarahan Samad berkaitan dengan proses penetapan wakil presiden jelang Pilpres 2014 dan penetapan menteri-menteri.
“Kita melihat dari amatan orang politik, (Abraham Samad) nampak suatu dendam politik, nampak seolah sebuah kemarahan,” kata Hasto.
Sebab, kata dia, penunjukan Budi sebagai Kapolri oleh Presiden Jokowi, telah melalui proses seleksi sesuai dengan UU yang berlaku. Ketika Presiden mengambil keputusan untuk mengusulkan Budi Gunawan sebagai Kapolri, berdasarkan UU yang diminta pertimbangan adalah Kompolnas bukan KPK.
“Sebenarnya semua tanpa ada usulan apa tidak pun, semuanya sudah berjalan sesuai perundang-undangan yang ada,” kata Hasto.
Selain itu, kata Hasto, DPR adalah cermin dari kedaulatan rakyat melalui perwakilannya telah mengambil suatu keputusan politik yang menyatakan Budi Gunawan memenuhi syarat sebagai Kapolri
“Sehingga tentu saja persoalan pelantikan itu sepenuhnya diserahkan kepada Presiden,” tegas Hasto.
Menyikapi tudingan ini, Samad menampik dengan keras hal itu. Bahkan dia menyebut kabar tersebut sengaja dikeluarkan semata-mata untuk menjatuhkan dirinya dari jabatan Ketua KPK.
“Itu semua fitnah,” kata Samad melalui pesan singkat saat dikonfirmasi terkait kabar pertemuan dengan petinggi PDIP melalui pesan singkat, Jakarta, Senin (19/1/2015). (dik)








