Pendamping tim Ragi, Mirtanina Sisyeline Bawekes mengatakan, timnya sejauh ini hanya mendapatkan satu foto saja dari ISS. Data tersebut, menurut dia, masih sangat jauh dari cukup untuk menjadi bekal analisis atau menghasilkan hipotesa eksperimen ragi di antariksa.
“Dengan data foto itu, kami belum bisa ambil kesimpulan apa pun, karena belum bisa lakukan analisis. Kami pun belum mendapatkan microlab yang sampai saat ini belum ada kabar,” kata Eli, sapaan akrab Sisyeline.
Kondisi timnya, kata Eli, berbeda dengan tim Padi yang sudah bisa lakukan analisis. Sebab, pengamatan tim Padi bisa dilihat secara langsung pertumbuhan padinya. Sementara itu, pengamatan ragi bagi tim yang dibimbing Eli, tidak semudah pengamatan tim Padi.
“Kalau mereka kan bisa lihat. Kalau kami tidak tampak (pertumbuhan raginya). Selain itu, harus dianalisis di laboratorium,” kata dia.
Eli menuturkan, untuk tahapan pengujian analisis eksperimen ragi tersebut, memang kuncinya ada pada kehadiran microlab.
Dia mengatakan, begitu microlab datang di tangan mereka, maka akan langsung diuji di laboratorium untuk melihat sejauh mana hasil fermentasinya. Apakah ada alkohol yang dihasilkan atau tidak, ataukah ada sinyal lainnya yang muncul.
“Jadi, ada tidak sinyal yang dihasilkan dari situ,” tuturnya.
Selanjutnya, hasil uji laboratorium itu kemudian dituangkan dalam laporan akhir penelitian dan diserahkan ke panitia penyelenggara eksperimen yang ada di Amerika Serikat. Kedua tim dijadwalkan akan mempresentasikan laporan mereka dalam forum peneliti dan riset di Negeri Paman San pada November 2016.
Terkait dengan pencapaian kedua tim tersebut, pemerintah tidak tinggal diam. Siswa yang terlibat dalam eksperimen itu tergolong siswa yang berprestasi dan untuk itu terbuka peluang untuk mendapatkan beasiswa pendidikan.
BeritaPrima.com Bicara Fakta