Bos Properti Jerman Ini Masuk Daftar Orang Terkaya Dengan Aset Rp205 Triliun
BeritaPrima.com - Michael Otto merupakan generasi kedua dari pemilik Otto Group, perusahaan ritel online asal Jerman. Perusahaan ini terkenal sebagai penjual aksesoris dan perlengkapan rumah.
Otto Group merupakan perusahaan ritel online terbesar kedua setelah Amazon. Perusahaan kini juga aktif di bisnis real estat dan jasa keuangan.
Besarnya perusahaan ini membuat Michael Otto memiliki kekayaan bersih USD15,4 miliar atau Rp205 triliun (mengacu kurs Rp13.310 per USD). Alhasil, dia menduduki posisi 51 dalam daftar orang terkaya dunia yang dirilis Forbes, sekaligus menjadi pengembang terkaya asal Jerman di dunia.
Dilansir dari laman Forbes, Jumat (4/3/2016), pria berusia 72 ini pernah menduduki chief executive officer (CEO) di perusahaan tersebut. Akan tetapi, sejak 2007 dia memutuskan pensiun setelah menjabat 26 tahun lamanya.
Saudara Michael, Alexander kini mengelola keuangan salah satu perusahaan keluarga, ECE Group, yang mengembangkan dan mengelola pusat perbelanjaan. Berdasarkan data perhitungan terakhir, ada sebanyak 196 berada di bawah manajemen perusahaan ini. Selain itu, perusahaan juga mengembangkan dan membangun kompleks transportasi, pusat logistik, kantor pusat perusahaan, kompleks kantor, bangunan industri dan properti tujuan khusus.
Anak perusahaan keluarga lainnya mengelola sekitar 8.300 apartemen dan ruang industri seluas 1,5 juta kaki persegi di daerah Toronto. Lalu ada Paramount Investment Group, sebuah perusahaan pengelola aset untuk dana yang memiliki batas yang telah ditentukan dan tetap sebanyak 12 properti kantor utama di kota New York, Washington DC dan San Francisco, semuanya mewakili total ruang 10,4 juta kaki persegi.
Pada 1949, ayah mereka, almarhum Werner Otto mendirikan perusahaan bisnis mail-order bernama Otto GmbH di Hamburg, Jerman. Perusahaan keluarga hingga saat ini aktif di industri real estat dan jasa keuangan serta ritel.
Anak Michael Otto, Benjamin sempat diharapkan mengambil alih kemudi perusahaan keluarga. Sayangnya, pada musim semi 2015, dia mengumumkan bahwa tidak akan mengikuti jejak ayahnya sebagai CEO, lebih memilih menjadi mitra pengelola kelompok perusahaan (“gestaltender Gesellschafter” pemegang saham yang mengambil peran aktif namun tidak memiliki tugas operasional). (feb)

