Sukses Tekan Kredit Macet, Laba Bersih BNI Syariah Naik 38,98 Persen
BeritaPrima, Jakarta - BNI Syariah tahun ini berhasil mempertahankan Non Profit Fund (NPF) atau kredit macet sebesar 1,86 persen. Angka ini, tidak mengalami kenaikan dibandingkan tahun sebelumnya.
Menurut Presiden Direktur BNI Syariah Dinno Indiano mengatakan cara untuk mencegah kredit macet, kunci utamanya adalah disiplin dalam pembiayaan dan monitoring yang ketat.
“Kita disiplin dari pembiayaan artinya kita tidak keluar dari pembiayaan utama kita. Kunci kualitas yang baik dr perbankan ya harus disiplin,” ujar Dinno di kantornya, Jakarta, Sabtu (31/1/2015).
Dinno menjelaskan, selama ini BNI Syariah masih terus berfokus pada pembiayaan konsumtif yang menyumbang 52,6 persen dari total pembiayaan tahun 2014 yang mencapai Rp15,04 triliun.
Dia menjelaskan, pembiayaan konsumtif 90 persennya merupakan pembiayaan kepemilikan rumah pertama atau griya dengan rata-rata pembiayaan Rp300-350 juta. “NPF di griya ini hanya 1,49 persen. Itu yang menolong NPF kita secara total,” tambahnya.
Kedua, lanjut Dinno, BNI Syariah selalu konsisten melakukan monitoring yang ketat terhadap seluruh cabangnya yang berjumlah 299 outlet di seluruh nusantara. Bahkan, Dinno mengungkapkan pusat dapat mengetahui penurunan kinerja dari cabang hanya dalam waktu tiga hari.
“Kita bisa tahu cabang mana yang mengalami perburukan tidak lebih dari tiga hari. Itu yang harus konsisten, tidak boleh lengah di situ,” tegasnya.
Dino juga menjelaskan soal kinerja Bank Syariah tahun 2014. Ia menyebutkan bahwa tahun lalu BNI Syariah mencatat kenaikan laba bersih sebesar 38,98 persen. Kenaikan laba ini, lantaran BNI Syariah berhasil menahan Non-Performing Fund (NPF) atau kredit macet sebesar 1,89 persen.
“Dari data in-house selama 2014 beberapa indikator berjalan sesuai rencana. Profitabilitas tercapai sebesar Rp193,25 miliar atau naik sebesar 38,98 persen dibanding tahun sebelumnya sebesar Rp117,46 miliar,” ujar Dinno.
Selain itu, aset perusahaan juga tumbuh sebesar 32,52 persen dari tahun sebelumnya. Dia mengatakan, BNI mencatat pada Desember 2014 total aset mencapai Rp19,49 triliun.
Pertumbuhan aset tersebut didorong oleh pertumbuhan pembiayaan sebesar 33,79 persen atau mencapai Rp15,04 triliun. Sebagian besar merupakan pembiayaan konsumtif 52,6 persen, pembiayaan produktif UKM 21,61 persen, pembiayaan komersial 16,15 persen, pembiayaan mikro 6,96 persen dan pembiayaan kartu Hasanah Card 2,68 persen.
Selain itu, Dana Pihak Ketga (DPK) juga meningkat sebesar 41,42 persen dari tahun sebelumnya atau tumbuh sejumlah Rp4,76 triliun. (aud)

