25 Preman Pemeras Wisatawan Asing di Bandung Ditangkap

Walikota Bandung Ridwan Kamil

Walikota Bandung Ridwan Kamil

 

BeritaPrima, Jakarta - Wali Kota Bandung Ridwan Kamil mengatakan Pemerintah Kota Bandung dan Polisi Resort Kota Besar Bandung telah menangkap 25 preman di kawasan Pasar Baru, Jalan Otto Iskandar Dinata, Bandung. Ke-25 preman itu ditangkap karena telah meresahkan wisatawan asing yang melancong ke Bandung.

“Mereka meresahkan dengan memaksa wisatawan berbelanja di satu toko saja. Ini konspirasi antara preman dan pemilik toko,” ujar dia, saat ditemui di Balai Kota Bandung, Jalan Wastukencana, Bandung, Kamis, (2 /4/2015). Tidak hanya menangkap wisatawan, rencananya Emil, sapaan Ridwan, akan meminta aparat untuk menangkap pemilik toko juga.

Puluhan preman itu bergaya layaknya pemandu wisata. Di Pasar Baru Bandung, mereka mengajak wisatawan berkeliling dan memaksa berbelanja di satu toko saja. Menurut Emil, hal tersebut merugikan wisatawan karena wisatawan tak merasa bebas dalam berbelanja. “Melanggar hak asasi wisatawan,” ujar Emil.

Penangkapan itu dilakukan Emil setelah dirinya menerima laporan dari wisatawan asing melalui akun pribadi media sosial Twitter miliknya. Sejumlah wisatawan asal Malaysia dan Singapura melaporkan hal tersebut pada Emil sejak sebulan lalu. Mendengar hal tersebut, Emil langsung meminta kepolisian untuk menindak mereka.

Meski demikian, Emil tak dapat menyebutkan harga yang ditawarkan pemilik toko pada para wisatawan itu. Dugaan sementara, pemilik toko menaikkan harga barang jualannya untuk membayar jasa para preman.

Sebelumnya, saat ini Emil tengah melakukan sejumlah perombakan untuk membuat nyaman para wisatawan. Selain preman, Emil mengatakan dia sudah meminta Dinas Perhubungan untuk segera menanggapi berbagai keluhan terkait dengan buruknya pelayanan taksi Bandara Husein Sastranegara. “Saya sudah meminta Dishub sejak sebulan lalu dan sekarang masih menunggu hasilnya,” kata dia, saat ditemui di Balai Kota Bandung, Jalan Wastukencana, Bandung, Selasa, 24 Maret 2015.

Emil menilai taksi bandara kerap membandel karena tidak memasang argo dalam menarik penumpang. Selain karena jarak, sopir taksi biasanya melihat penampilan penumpang untuk menentukan harganya. Tak hanya itu, penumpang merasa direpotkan karena mesti melakukan negosiasi terlebih dahulu sebelum bepergian.

Selain itu, Emil mengeluhkan kualitas fisik dan mesin taksi. Ia menilai keadaan taksi sudah tak layak karena kendaraan-kendaraan tersebut tak pernah diremajakan. Salah satunya adalah cat yang sudah memudar.

(Aditya Sanjaya)

(Visited 59 times, 1 visits today)
Kategori: Kriminal

Write a Comment

Your e-mail address will not be published.
Required fields are marked*