Dalam artikel tersebut terkesan sekali Bienkov menyiratkan pesan, menangani tanggung jawab yang kecil-kecil saja, BoJo masih loyo. Apalagi jika ia dipercayai tanggung jawab yang lebih besar, seperti memerintah suatu negara dengan menduduki posisi tertinggi di parlemen, yakni Perdana Menteri.
Pada kasus Brexit pun, dia selalu bilang semua akan baik-baik saja. Rakyat Inggris di manapun akan tetap menjalani hari-hari yang biasa, tanpa krisis ekonomi maupun lainnya, tetap stabil. Akan tetapi, banyak orang rupanya merasa tertipu dengan propaganda itu, segera setelah Brexit diumumkan pada Kamis 24 Juni 2016 pagi waktu setempat. Poundsterling anjlok, demikian juga banyak saham mancanegara Inggris.
“Ketika penulis biografinya membandingkan dia dengan seekor kera yang dipercayakan menjaga vas Dinasti Ming, vas tersebut hanyalah majalah mingguan populer yang jadi corong kubu konservatif. Namun, dalam beberapa bulan mendatang, Boris Johnson kemungkinan akan diserahkan vas yang lebih berharga,” ujar Bienkov merujuk pada jabatan Perdana Menteri Inggris.
“Hanya saja pada kasus ini, vas yang akan dipegangnya sudah rusak, dan si kera itu lah yang menghancurkannya menjadi berkeping-keping. Sesudah itu, dia akan ditugaskan untuk menyatukannya lagi,” tambahnya, menganalogikan bahwa Boris Johnson adalah kera yang sudah memecah belah Negeri Ratu Elizabeth dan sekarang seolah dia akan dibiarkan untuk menjadi juru selamat atas kekacauan yang dia buat sendiri.
Dengan demikian, bisa dikatakan bahwa semua darah itu bercampur aduk menyatu dan melahirkan sosok kontroversial ini. Lucu, menyenangkan, berwawasan luas, tetapi juga rasis, cenderung ‘evil’, dan fanatik.
BeritaPrima.com Bicara Fakta