Atas tudingan Sukmawati yang mendasarkan pada pengakuan Latief, Wakil Ketua DPR Fadli Zon memberikan bantahan. Fadli mengaku pernah mewawancarai Soeharto mengenai permasalahan tersebut, dan kepadanya Soeharto membantah.
Soeharto sendiri dalam buku Dua Jenderal Besar Bicara tentang Gestapu/ PKI mengakui bahwa Kolonel Latief menenemuinya pada 28 September 1965 malam di rumahnya Jalan Agus Salim, Jakarta.
Namun, Latief sama sekali tidak menginformasikan apa-apa tentang persiapan G30S. Kemudian pada 29 September, ketika menunggui anaknya Tommy, yang tersiram sup panas, Soeharto melihat Latief mondar-mandir di rumah sakit tempat Tommy dirawat.
“Ini omong kosong, tidak benar sama sekali. Kalau dia mengatakan di saat itu dia melaporkan kepada saya, kok lapor ke saya. Padahal saya bukan atasannya langsung. Kok dia lapor ke saya, bukan ke atasannya langsung. Itu kan soal penting. Soal gawat sekali, bahwa ada tujuh jenderal yang akan dibunuh. Itu kan soal genting,” kata Soeharto dalam buku yang ditulis oleh Anton Tabah, 1999, halaman 23 tersebut. (dik)
BeritaPrima.com Bicara Fakta
Sejarah jadi membingungkan generasi muda, yang tidak mengalaminya sendiri.