Saat pukul 04.10 pagi di sahur hari pertama itu, Romig seperti seorang bayi yang frustasi. Dia menghabiskan berliter-liter air minsum. Tak lupa secangkir kopi kedua. Istrinya tertawa. Tapi Romig tak hiraukan.
Menjalani puasa dan menjadi kaum minoritas memang pekerjaan berat. Didaulat sebagai negara yang menjunjung tinggi kebebasan, Amerika Serikat masih menganggap Islam sebagai agama kelas dua. Negara ini tidak benar-benar menerapkan kebebasan.
Situasi ini tentu tidak mendukung bagi Muslim di negeri Paman Sam tersebut. Mereka tidak bisa bebas beribadah dengan nyaman. Alhasil, mereka memilih mengabaikan rasa nyaman itu dan berusaha untuk bisa beribadah, apapun caranya. Terutama untuk menjalankan puasa.
Romig memang tak sendiri. Banyak muslim merasakan perjuangan yang sama. Harus berpuasa saat sebagian besar penduduk dengan lahapnya makan dan minum di restoran.
Chris Duffy merasakan betul tekanan itu. Pemuda mualaf asal Albany, New York, AS, justru merasa bersyukur bisa berpuasa di tengah tekanan sosial yang ia alami sebagai Muslim. Menahan lapar dan haus merupakan perkara mudah dibandingkan tekanan dari teman-temannya yang non-Muslim bahkan keluarganya.
Keluarga Duffy merupakan penganut Nasrani tetapi tidak taat. Keputusannya memeluk Islam membuat keluarganya keheranan. Sebab, Duffy tampak mengambil jarak dengan keluarganya.
“Sulit bagi saya untuk terus berjarak dengan keluarga. Saya harus pergi ke rumah paman saya (yang juga Muslim) saat berbuka, dia menyediakan burger dan keju, kentang, ayam, dan beberapa karya. Tetapi ketika keluarga Anda mengatakan di sini ada makanan, sulit untuk menjelaskan kepada mereka saya tidak bisa. Godaan untuk berbuka selalu ada di sana,” ucap dia.
BeritaPrima.com Bicara Fakta