Ganti Sikat Gigi Secara Rutin Dapat Jaga Kesehatan Mulut
BeritaPrima, Jakarta - Data Riskesdas tahun 2013 menyatakan bahwa 72 persen masalah sikat gigi adalah gigi berlubang. Angka yang terbilang cukup besar, padahal kesadaran untuk menyikat gigi sudah meningkat.
Fakta lainnya, masyarakat Indonesia masih kurang pengetahuannya mengenai periode atau masa pemakaian sikat gigi. Data Nielsen tahun 2014 menyatakan bahwa rata-rata orang Indonesia mengganti sikat gigi yang dipakainya 1 kali dalam 10 bulan.
“Memelihara sikat gigi, harus bersih dan diganti tak boleh dari tiga bulan. Lalu, jangan meletakan sikat gigi sembarangan karena tidak semua kamar mandi higinis. Selain itu, sikat gigi lembab dapat mempercepat penyebaran kuman,” ujar Prof. Dr. drg. Melanie S. Djamil dari Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Trisakti yang ditemui dalam acara bertajuk “Ayo Ganti Pakai Formula” di Double Tree by Hilton Hotel, Jakarta Pusat, Selasa (14/4/2014).
Bakteri juga mudah sekali berkembang pada pasta gigi. Dari rongga mulut lalu meyebabkan timbulnya penyakit. Bahkan, peneliti dari the University of Manchester menemukan lebih dari 200 juta bakteri pada bulu sikat gigi, termasuk bakteri E.coli dan staphylococci.
Dijelaskan juga oleh Prof. Mel agar masyarakat jangan sering bergonta-ganti pasta gigi dan harus menunggu reaksi dari pasta gigi tersebut.
“Orang seringkali gonta-ganti pasta gigi. Sebaiknya, beri waktu pasta gigi bekerja. Permukaan email baru bereaksi di atas satu bulan,” terangnya.
Metode penyikatan gigi juga harus tepat, karena jika tidak hati-hati akan melukai gusi.
(Arie Septiani)


