Find the latest bookmaker offers available across all uk gambling sites www.bets.zone Read the reviews and compare sites to quickly discover the perfect account for you.
Minggu , 31 Juli 2016
warna-mata

Mengenali Risiko Penyakit Dari Warna Bola Mata

BeritaPrima.com - Ada lebih dari satu gen yang terlibat dalam menentukan warna bola mata seseorang, kata Rachel Bishop, MD, kepala divisinlayanan dan konsultasi National Eye Institute.

Seperti halnya kulit, warna bola mata cenderung mirip pada orang-orang beretnis sama. Namun, warna mata Anda dengan putri Anda atau saudara dekat mungkin juga sedikit berbeda. Ini karena di dalam diri Anda dan mereka ada perpaduan beberapa gen yang mungkin juga sedikit atau banyak berbeda.

Perpaduan gen-gen ini juga bisa menurunkan atau meningkatkan risiko Anda terhadap penyakit tertentu, seperti tergambar di bawah ini.

1. Bola mata berwarna gelap lebih berisiko katarak.

Sebuah studi tahun 2000 yang diterbitkan dalam American Journal of Ophthalmology menemukan bahwa orang bermata gelap memiliki risiko 1,5 sampai 2,5 kali lebih besar menderita katarak.

Melindungi mata dari sinar ultraviolet adalah salah satu langkah penting pencegahan katarak bagi siapa pun.

Para peneliti merekomendasikan Anda, terutama yang memiliki bola mata berwarna gelap, untuk memakai sunglasses dengan filter UVA dan B 100 persen dan memakai topi lebar untuk menghalagi sinar matahari langsung masuk ke mata Anda.

2. Vitiligo kurang umum di antara orang bermata biru.

Sebuah ulasan penelitian tahun 2012 mengenai vitiligo yang diterbitkan di jurnal Nature menemukan penyakit autoimun, yang menyebabkan hilangnya warna kulit, bukan sesuatu yang umum terjadi pada orang dengan mata biru.

Dari hampir 3.000 pasien vitiligo yang semuanya berasal dari ras Kaukasia, 27 persen di antaranya memiliki bola mata biru, 30 persen memiliki bola hijau dan 43 persen memiliki mata cokelat.

Para peneliti menemukan bahwa variasi dua gen, TYR dan OCA2 yang menentukan warna biru bola mata seseorang lah yang menurunkan risiko vitiligo, kata penulis studi Richard A. Spritz, MD, direktur program genomik di University of Colorado School of Medicine.

Selanjutnya >>

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *