Banyak Belajar Bersama Indonesia Bangun Desa

AYUNAMA lengkap saya Wida Ayu Mei Nainty dan biasa dipanggil Wida. Saat ini saya menjadi salah satu peserta Indonesia Bangun Desa (IBD) angkatan ke 2. Awalnya saya mengikuti program ini karena ingin menambah pengalaman dan teman baru, ternyata banyak pelajaran yang saya dapat setelah mengikuti program ini.

Tahap pertama yang saya lalui setelah lolos seleksi IBD adalah training center yang berlangsung selama 2 bulan. Training center ini dilaksanakan di Desa Ciapus, Bogor. Pada tahap ini, bersama peserta lainnya saya mendapat materi dari orang-orang yang luar biasa, baik materi tentang pertanian, enterpreneur, pemberdayaan masyarakat, keuangan, dan lain-lain.

Pada tahap ini saya mendapat kesempatan untuk belajar di kelompok budidaya ikan. Kelompok ini mendapat tugas pendederan ikan patin dari ukuran inch hingga 1,5 inch. Sangat menyenangkan bisa mengamati perkembangan ikan di kolam dan memberi makan hingga mereka semakin besar. Tahap training center ini berakhir bersamaan dengan berakhirnya bulan Ramadhan.

Kami semua kembali ke lokasi training center karena libur lebaran telah usai. Tahap kedua telah menanti yaitu magang di balai-balai pelatihan. Penentuan tempat magang ditentukan berdasarkan minat peserta antara lain: perikanan, pertanian dan peternakan.

Saya memilih untuk mendalami ilmu praktis dalam budidaya domba dan ditempatkan di Balai Pengembangan Perbibitan Ternak Domba (BPPTD) Margawati Garut, Jawa Barat. Balai yang mempunyai luas 26 Ha ini terletak di kaki gunung Karacak. Dengan suhu 1626 derajat celcius, ketinggian tempat 1.000 m dpl dan curah hujan 2.020 mm/tahun serta kelembaban udara 85-95% merupakan ekologi yang cocok untuk pengembangan bibit domba garut.

Saya mulai mengenal domba terutama domba Garut di Balai Domba Margawati. Disini saya mulai mempelajari cara pemberian pakan, pemeliharaan ternak, perkandangan, pengelolaan limbah dan kesehatan ternak. Saya juga mengikuti semua aktivitas di balai yang meliputi pembersihan kandang, pemberian pakan ternak, memandikan ternak, mencukur bulu dan memotong kuku ternak, penyediaan hijauan untuk pakan ternak, seleksi bibit dan pendataan ternak domba.

Pada saat magang di balai bertepatan dengan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, sehingga saya diberi kepercayaan untuk menjadi panitia acara perayaan hari kemerdekaan. Saya juga berkesempatan mengikuti magang bersama kelompok-kelompok ternak se-Jawa Barat selama 3 (tiga) hari di balai ini.

Sebulan sudah magang di Balai Domba Margawati, saatnya beralih ke tahap mentorship di Peternakan Domba Tawakkal milik Bapak H. Bunyamin di Cimande, Bogor. Berbeda dengan di balai, peternakan Tawakkal ini terdiri dari berbagai jenis domba, ada domba garut, lokal, ekor gemuk, dan merino. Jumlah domba disini kurang lebih 1.500 ekor yang diletakkan dalam 5 kandang. Kandang individu untuk penggemukan, sedangkan kandang koloni untuk breeding. Karena sebentar lagi Hari Raya Kurban, peternakan ini juga menyediakan sapi potong.

Selain belajar tentang bisnis domba di peternakan Tawakkal, saya juga mengikuti kegiatan Kelompok Wanita Tani (KWT) Tawakkal. Saya menanam beberapa jenis sayur di halaman, diantaranya bayam, kangkung, bengkoang dan sawi. Disana saya juga bertemu beberapa teman baru, ada yang berasal dari Yogyakarta, Palembang dan Bekasi. Kami saling sharing pengalaman sehingga dapat melengkapi ilmu yang didapat.

Setelah tahap mentorship, lanjut ke tahap terakhir Program Indonesia Bangun Desa yaitu penempatan di desa. Saya mendapat kesempatan ditempatkan di Waringin Farm, Serang, Banten. Ada sesuatu baru yang saya pelajari di Waringin Farm, yaitu kambing perah (PE) dan kambing pedaging (kacang).

Disini saya juga tergabung dalam Banten Bangun Desa (BBD) dan sering mengikuti kegiatannya. Pelajaran yang paling penting adalah belajar langsung dengan bisnis yang baru, sehingga dapat mengetahui kendalakendala yang dihadapi sehingga nantinya bisa mengatasi dan meminimalisir kendala tersebut dalam bisnis.

Saya dikenalkan dengan seorang mantan anggota Dewan, yaitu Ustad Dede. Beliau memiliki sapi perah, dan kotorannya pun sudah dimanfaatkan untuk biogas. Beliau banyak sharing dan memotivasi untuk terus semangat mencapai apapun yang impikan.

Karena beliau juga saya jadi belajar cara pembuatan Yoghurt di Bogor, sehingga satu lagi keahlian yang saya dapat. Meskipun saya berasal dari lulusan Teknologi Pangan dan Hasil Pertanian (TPHP) dan belajar tentang Yoghurt, namun baru kali ini saya membuat yoghurt. Selain itu, secara otodidak saya juga belajar membuat kefir, salah satu hasil pengolahan susu yang baru pertama kali saya dengar.

Masih banyak hal yang saya dapat selama mengikuti Program Indonesia Bangun Desa, salah satunya adalah menambah jaringan dan saudara. Dengan berbaur langsung dengan masyarakat, saya jadi tahu berbagai macam karakter masyarakat dan bagaimana cara mengatasinya. Terima Kasih.

* Wida Ayu Mei Nainty, Peserta Indonesia Bangun Desa

(Visited 2 times, 1 visits today)
Kategori: Berita Warga

Write a Comment

Your e-mail address will not be published.
Required fields are marked*