Apalagi Kampung ini juga dipenuhi oleh arsitektur lawas bergaya jengki yang sangat populer di masa setelah kemerdekaan Indonesia.
Sis mengungkapkan arsitektur ini unik karena gaya jengki datang secara tiba-tiba dan pergi secara tiba-tiba di tahun 50-an hingga 60-an.
“Kini hanya sedikit yang tersisa di Surabaya. Salah satunya di lokasi kampung ketandan ini,” ungkapnya.
Kampung ini juga unik karena lokasinya yang terhimpit di antara bangunan raksaa di pusat kota.
Kampung ini menjadi satu-satunya kampung yang bertahan di segitiga emas Surabaya.
Bahkan, Siswandoko mengungkapkan kampung Ketandan sempat hampir digusur di era kepemimpian Soeharto.
“Namun berkat kerjasama seluruh warga Ketandan yang meninggikan harga jual tanah, upaya tersebut bisa digagalkan,” pungkasnya. (feb)
BeritaPrima.com Bicara Fakta