SBY ‘Habisi’ Kubu Marzuki Alie Dari Kepengurusan Demokrat

SBY_Demokrat

Ketua Umum Partai Demokrat, Susilo Bambang Yudhoyono, tampaknya mendepak kubu Marzuki Alie dari kepengurusan.

BeritaPrima, Jakarta - Ketua Umum Partai Demokrat, Susilo Bambang Yudhoyono, tampaknya mendepak kubu Marzuki Alie dari kepengurusan. Itu terlihat dari Susunan Pengurus Harian Terbatas (PHT) DPP Partai Demokrat.

Marzuki diawal-awal Demokrat adalah Sekretaris Jenderal Pimpinan Pusat. Setelah Partai Demokrat menang di pemilu 2009, dia dipercaya menjadi Ketua Fraksi DPR 2009-2014.

Pada Kongres Demokrat 2015 di Surabaya, Marzuki sempat melakukan ‘perlawanan’ dengan meminta SBY tidak maju mencalonkan ketua umum. Walau akhirnya, di akhir-akhir pendaftaran bakal calon ketua umum, Marzuki menyatakan tidak maju dan mendukung SBY.

“Bila AU (Anas Urbaningrum) habis dengan merata (susunan DPP) kepada faksi Cikeas (SBY) dan Halim (Marzuki Alie atau MA), maka SBY makin absolut tersentral. Kubu MA seperti Max Sopacua, Jhonnie Allen dan Syofwatillah alias Opat juga hilang di PHT kabinet SBY,” ujar politikus Partai Demokrat, Gede Pasek Suardika, saat dihubungi, Minggu, 31 Mei 2015.

Dari nama-nama itu, memang diakuinya ada dari kubu Anas, yakni Saan Mustofa. Saan dipercaya menjadi Wakil Sekretaris Jenderal, bersama nama-nama lainnya seperti Didi Irawadi Syamsuddin.

Pasek membeberkan perbedaan antara Anas dengan SBY. Anas, kata anggota DPD RI ini, lebih merangkul semua pihak yang berkompetisi di Kongres 2010 Bandung.

“Ketika AU menang, ia gunakan pola winning for all dengan merasakan kemenangan untuk semua sehingga yang kalah pun dirangkul di PHT,” kata Pasek.

Saat kepemimpinan SBY, yang dipilih secara aklamasi, justru sebaliknya. “SBY memilih winning take all. Begitu menang semua diambil dalam kendali dirinya. Kekuatan penyeimbang diharamkan di dalam,” jelas Pasek.

Pasek melihat, cara SBY wajar. Berpengalaman pada kepemimpinan Anas yang terlalu akomodatif. Juga SBY menginginkan kekuasaan yang tersentral. “Agar jangan tumbuh potensi kekuatan baru di Partai Demokrat,” katanya.

Tapi, pilihan untuk mengakomodasi semua pihak, dinilai Pasek jauh lebih baik. Pasek mencontohkan, apa yang dilakukan oleh Anas saat itu karena memang soliditas internal penting, bukan membangun dan memperuncing faksi-faksi internal.

“Karena esensi parpol itu kompetisi keluar, bukan ke dalam,” tutur Pasek. (dik)

(Visited 13 times, 1 visits today)
Kategori: Parpol

Write a Comment

Your e-mail address will not be published.
Required fields are marked*