Tutup Kongres, Mega Tunjukkan Sikap ‘Otoriter’

megawati4

Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri mengancam untuk mengusir kader partai yang tak patuh pada instruksi partai. (Foto:BeritaPrima/dok)

BeritaPrima, Denpasar - Ketua Umum PDI Perjuangan, Megawati Soekarno Putri menyampaikan sikap keras dan bahkan cenderung ‘otoriter’ ketika menyampaikan pidato penutupan kongres PDIP di Hotel Grand Bali Beach, Sanur, Denpasar, Bali, Sabtu (11/4/2015). Dalam pidatonya, putri Bung Karno itu menuntut semua kadernya untuk tunduk sepenuhnya kepada partai.

Mega bahkan mengancam untuk mengusir kadernya, terutama yang ada di DPR RI, untuk hengkang dari partai bila tidak mau jadi petugas partai. “Ingat kalian petugas partai. Tak mau disebut petugas, keluuaarr!” teriak Megawati dalam pidato penutupan Kongres IV PDI Perjuangan di Bali, Sabtu 11 April 2015.

Megawati mengatakan, telah menerima laporan tentang kader di DPR RI yang tidak bekerja serius alias tidak mau menjadi petugas partai. “Saya sudah bilang umumkan saja nama mereka agar mereka bisa introspeksi diri,” keta Megawati.

Mega menjelaskan, petugas partai itu adalah pelayan partai, pelayan masyarakat yang memiliki hati sanubari untuk membela rakyat kecil.

Sebelumnya, Mega juga berkali-kali menyebut Presiden Jokowi sebagai petugas partai. Dalam pidato politik pembukaan kongres, Mega bahkan secara terbuka menyampaikan keluh-kesahnya bahwa Jokowi belakangan semakin menjauh dari partai. Ia pun mengkritik media dan pihak-pihak yang mempersoalkan ‘intervensi’ PDIP ke Jokowi.

Lantas, apakah penegasan sikap Mega untuk mengusir ‘petugas partai’ yang tak patuh tersebut juga berlaku buat Jokowi yang kini menjabat presiden yang sudah seharusnya lebih mengedepankan kepentingan rakyat ketimbang partai? Dalam pidato tersebut, Mega memang tak menyinggung presiden atau Jokowi.

Tetapi menyebut-nyebut bahwa posisi ketua umum yang didudukinya saat ini banyak yang mengincarnya. “Untung saya cantik, kalau nggak begitu sudah banyak yang kepengen tempat duduk saya ini,” kata Megawati.

Menurut Mega, orang-orang yang berusaha merebut singgasananya itu tidak dapat berkutik karena seluruh kader yang hadir dalam Kongres IV telah sepakat memilih kembali Mega sebagai ketua umum. Kongres IV ini memang menetapkan Megawati sebagai ketua umum secara aklamasi tanpa harus melalui proses rumit.

Lagi-lagi, ucapan Megawati ini jelas mengarah ke Jokowi. Seperti diketahui, bahwa menjelang pelaksanaan kongres yang lalu, cuma ada satu nama kuat yang digadang-gadang untuk menggantikan Mega sebagai ketua umum. Tak lain adalah Jokowi. Berbagai survey bahkan menempatkan Mega dan keluarga Bung Karno lainnya di ranking bawah.

Sementara itu, selain bicara soal internal partai, Mega juga menyinggung soal kondisi masyarakat. Mega mengaku tak habis pikir dengan sifat kebodohan dan malas yang masih menancap dalam diri segenap rakyat Indonesia. Megawati banyak mengkritik sikap mental, malas dan rendah diri yang masih menancap pada rakyat Indonesia.

“Kita ini bangsa merdeka. Kenapa sifat kemalasan, kebodohan, rendah diri, masih mencap dalam diri kita,” kata Megawati di Hotel Grand Bali Beach Sanur, Denpasar Sabtu, 11 April 2015.

Menurutnya, pengalaman terjajah selama 3,5 abad dapat dijadikan tonggak untuk bangkit berdiri sejajar dengan bangsa lain.

“Saya sampai mikir, kalau 350 tahun, berapa ibu-ibu hamil, berapa bulan, ibu bunting berapa banyak ya, karena suaminya ketakutan, ibunya ikut ketakutan, bayinya ikut ketakutan, maka yang ada adalah generasi ketakutan,” sentil Megawati.

Untuk mengubah semua itu, Megawati mengaku mesti dilakukan revolusi mental. Revolusi mental, kata Megawati, bisa membangkitkan, menyadarkan kesadaran rakyat bahwa mereka bukan bangsa rendah. Meskipun masih miskin, Megawati meyakini rakyat tetap masih punya harga diri.

“Semua itu harus ditancapkan, ditancapkan,” imbuhnya disambut pekikan merdeka dari kadernya.

Namun, pekikan merdeka dari kadernya itu justru membuat Megawati terusik. Dia segera memberikan tanggapan.

“Tidak usah merdeka, merdeka. Kita sudah merdeka,” selorohnya disambut tawa hadirin.

(Febrizky Akbar)

(Visited 47 times, 1 visits today)
Kategori: Parpol
Tags: #KongresPDIP

Write a Comment

Your e-mail address will not be published.
Required fields are marked*